28 Persen Masyarakat Tolak Vaksin, 23 Persen Lainnya Ragu

  • Whatsapp
Ilustrasi Vaksin Covid-19. HESTEK.ID/pexels.com/@gustavo-fring

PURWOKERTO, hestek.id – Proses vaksinasi Covid-19 di Indonesia sudah berlansung sejak Februari lalu. Namun, sampai saat ini masih banyak warga yang ragu bahkan menolak vaksinasi.

Fakta ini terlihat dari hasil survey Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) mempublikasikan hasil survei mereka pekan ini. Dalam hasil survey bertajuk ‘Satu Tahun COVID-19: Sikap dan Perilaku Warga terhadap Vaksin’ ini sedikitnya 28 persen masyarakat Indonesia menolak vaksinasi. Sementara 23 persen di antaranya mengaku masih ragu.

Bacaan Lainnya


Cari Informasi Viral Di Kolom Pencarian

Dari  jumlah total tersebut hanya ada 46 persen warga yang secara tegas mau divaksin.

“Ini temuan yang perlu mendapat perhatian serius,” ujar Direktur Riset SMRC, Deni Irvani.

Menurut Deni, bila pencegahan penyebaran Covid-19 hendak dicapai secara efektif, diperlukan minimal 70 persen warga yang memiliki kekebalan tubuh terhadap virus Corona.

“Hanya bila 70 persen itu tercapai maka Indonesia akan memiliki herd immunity yang diperlukan untuk membasmi Covid-19,” ujar Deni.

Survei yang mencakup semua provinsi di Indonesia ini dilakukan pada 28 Februari 2021 – 8 Maret 2021 dengan metode wawancara tatap muka. Survei ini melibatkan 1220 responden yang dipilih secara acak, dengan margin of error 3,07 persen.

Menurut Deni, terdapat sejumlah faktor yang mungkin mempengaruhi kesediaan seseorang untuk divaksin.

Pertama, soal keyakinan bahwa vaksin aman. Survei menemukan bahwa 64 persen warga yang percaya bahwa vaksin aman bersedia untuk divaksin, sementara hanya 16 persen warga yang percaya vaksin aman bersedia untuk divaksin.

Kedua, pengaruh dari adanya kampanye menolak vaksin. Sekitar 35 persen warga yang pernah mendapat ajakan untuk menolak vaksin menyatakan bersedia divaksin, sementara 47 persen warga yang tidak pernah mendapat ajakan menolak vaksin bersedia divaksin.

Ketiga, rasa kekhawatiran atau ketakutan akan penularan COVID-19. Survei menemukan bahwa 59 persen warga yang menyatakan sangat takut tertular vaksin menyatakan bersedia divaksin, sementara hanya 38 persen warga yang menyatakan tidak takut tertular Corona menyatakan bersedia divaksin.

Keempat, persepsi tentang masih terus bertambahnya kasus penularan Covid-19. Survei menemukan bahwa 52 persen warga yang percaya jumlah terinfeksi Covid-19 semakin banyak menyatakan bersedia divaksin, sementara hanya 39 persen warga yang tidak percaya jumlah terinfeksi Covid-19 semakin banyak menyatakan bersedia divaksin.

“Dengan demikian, agar kebijakan vaksinasi ini berjalan efektif, pemerintah perlu melaksanakan serangkaian langkah,” ujar Deni.

“Pemerintah perlu melawan kampanye anti vaksin, meyakinkan rakyat bahwa vaksin aman, meyakinkan publik bahwa bahwa pandemi belum berakhir dan setiap warga bertanggungjawab untuk mencegah penyebaran wabah,” kata dia lagi. (topan pramukti)

Pos terkait