Anggota Polri Somasi RS Ananda, Dinilai Tak Profesional Hingga Istrinya Meninggal

  • Whatsapp
Seorang anggota Polresta Banyumas, Aiptu Seno Wahyu Taruna melayangkan somasi ke Rumah Sakit (RS) Ananda Purwokerto, Kamis (21/1/2021). (HESTEK.ID/Anas Masruri)

PURWOKERTO, hestek.id – Seorang anggota Polresta Banyumas, Aiptu Seno Wahyu Taruna melayangkan somasi ke Rumah Sakit (RS) Ananda Purwokerto, Kamis (21/1/2021). Seno menilai pihak RS Ananda tidak profesional dalam memberikan pelayanan hingga membuat Rini Yuwanti (44), sang istri tercinta meninggal dunia.

Seno menilai, RS Ananda kurang sigap dalam proses penanganan pasien. Selain itu, pola komunikasi pihak RS Ananda kepada keluarga pasien juga menjadi catatan merah yang tertuang dalam berkas somasi.

Bacaan Lainnya

Didampingi kuasa hukumnya, Alex Irawan Supriyatmoko, Seno menceritakan, pada 15 Desember 2020 lalu, Rini mengeluh sakit di bagian dada. Hari itu juga, Seno menghubungi RS Ananda dan dijemput menggunakan mobil ambulans.

“Pada saat di swab, istri ternyata positif Covid-19 dan menjalani proses karantina selama 10 hari di RS Ananda,” katanya saat ditemui di Kantor LBH Garda Manunggal, Kamis (21/1/2021).

10 hari menjalani perawatan di ruang isolasi, Rini akhirnya diperbolehkan pulang dengan catatan tetap melakukan karantina mandiri di rumah. Namun selama karantina mandiri, tepatnya 29 Desember 2020, kondisi ibu dari dua anak ini tidak kunjung membaik.

“Pada saat itu, saya lagi piket malam dan diminta pulang, karena istri susah bernafas. Akhirnya kami hubungi RS Ananda lagi dan minta dijemput ambulans,” katanya.

Dalam kondisi panik, Seno malah mendapat jawaban yang bagi dia kurang memuaskan. Pihak RS Ananda tidak langsung mengiyakan penjemputan, namun malah menghubungkan ke Public Safety Center (PSC) 119 Dinas Kesehatan Banyumas.

“RS hubungkan ke 119 Dinkes, dan dijawab tidak bisa. Langsung saya tutup telponnya. Akhirnya saya dan anak membawa istri ke RS Ananda pakai kendaraan sendiri,” katanya.

Kekecewaan Seno semakin menjadi begitu tiba di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Ananda. Lama menunggu, istrinya tak kunjung mendapat penanganan meski sudah pernah berobat di RS Ananda.

Dalam keterangannya, Seno menyebut, tidak ada satu pun perawat atau dokter yang langsung bertindak atau sekedar menjaga di ruang observasi.

“Bahkan istri sempat terjatuh karena berusaha berdiri. Pada saat itu pun tidak ada yang membantu, sehingga saya sendiri yang membantunya ke tempat tidur,” katanya.

Saat itu Seno sempat bertanya ke dokter. Namun jawaban yang diberikan dokter IGD RS Ananda malah membuat dia semakin geram.

“Nanti ada yang mengurus kalau sudah masuk ruang perawatan,” kata Seno menirukan jawaban dokter IGD RS Ananda.

Karena Rini merupakan pasien Covid-19, Seno dan anaknya tidak diperbolehkan mendampingi di ruang perawatan. Seperti sebelumnya, keluarga akan mendapat pemberitahuan terkait kondisi pasien Covid-19 melalui sambungan telefon.

Selang dua hari, pada 31 Desember 2019 dini hari, Seno dihubungi pihak RS Ananda jika istrinya harus dirujuk ke RSUD Banyumas atau RS Margono. Narahubung tidak memberitahukan alasan kenapa dirujuk, dan setelah itu pihak RS Ananda tidak lagi menghubungi Seno hingga pagi hari.

“Pagi hari tanggal 31 Desember, mau berangkat dinas sekitar pukul 06.30 WIB perasaan nggak enak. Karena tidak ada Informasi dari RS, di tengah perjalanan saya mencoba menelpon RS. Bukannya kabar baik, tetapi malah diberitahu istri sudah meninggal jam 05.30 WIB,” katanya.

Kabar duka tersebut menjadi puncak kekecewaan Seno. Dia menyayangkan pihak RS Ananda tidak memberikan kabar terkini saat istrinya kritis. Bahkan hingga Rini mengembuskan nafas terakhir pun, Seno tidak diberi tahu oleh pihak RS Ananda.

“Ini malah sejam setelah istri meninggal baru kasih kabar, itu pun saya yang telefon dulu,” katanya.

Alex mengatakan, pihaknya telah melayangkan somasi tertanggal 20 Januari 2021 ke RS Ananda. Namun, hingga berita ini ditayangkan, LBH Garda Manunggal belum mendapat respon atau jawaban.

“Kami sempat berkomunikasi dengan RS Ananda untuk meminta klarifikasi. Namun, tidak mendapat perlakukan yang terbaik. Kami meyakini RS Ananda telah lalai dan tidak melaksanakan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 4 Tahun 2018 Tentang Kewajiban Rumah Sakit dan Kewajiban Pasien,” terangnya.

Tak hanya itu, dia juga menyayangkan pihak RS Ananda tidak tanggap atas rasa duka cita yang dialami kliennya.

“Jika dalam waktu 2 x 24 jam terhitung sejak somasi dikirimkan tidak mendapat jawaban maka akan dilanjutkan upaya hukum baik secara perdata maupun pidana yang bisa berakibat pencabutan izin dan atau penutupan operasional RS,” katanya. (Anas Masruri)

Pos terkait