Banyumas Berulang Tahun, Petisi Lama Bersemi Kembali

  • Whatsapp
Peta proyek PLTPB Gunung Slamet. HESTEK/Istimewa

PURWOKETO, hestek.id – Petisi online berjudul ‘Pak Jokowi, Cabut Izin PLTP Baturraden’, kembali muncul di laman Change.org.

Petisi yang dibuat komunitas Lindungi Hutan Tegal empat tahun lalu itu, muncul kembali melalui pesan berantai di media sosial. Isinya menuntut Presiden Joko Widodo mencabut izin proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) di Gunung Slamet yang dianggap berpotensi mengancam keseimbangan ekosistem Gunung Slamet.

Bacaan Lainnya

Dalam petisi itu dituliskan, flora dan fauna di hutan Gunung Slamet kondisinya tak lagi sama sejak datangnya proyek PLTP Baturraden di Gunung Slamet.

Untuk diketahui, perusahaan pemenang tender Proyek PLTP Baturraden itu bernama PT Sejahtera Alam Energy (PT. SAE). Permodalannya disokong perusahaan asing STEAG PE GmbH asal Jerman, dengan saham 75 persen dan 25 persen sisanya dimiliki perusahaan nasional PT Trinergy.

“Rencana biaya yang dikeluarkan untuk Pengusahaan Tenaga Panas Bumi sebesar 880 juta US Dollar. Semua ini diperlukan, untuk menghasilkan listrik dengan target 220 Mega Watt,” tulis petisi tersebut.

PT SAE memegang Izin Panas Bumi (IPB) berdasarkan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 1557 k/30/MEM/2010, yang kemudian diperbarui menjadi Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 4577k/30/MEM/2015.

Wilayah Kerja Pertambangan (WKP) PLTP Baturraden seluas 24.660 hektar, meliputi wilayah hutan lindung di Kabupaten Brebes, Banyumas, Purbalingga, Tegal dan Pemalang.

“90 persen dari lokasi tersebut, merupakan kawasan hutan lindung,” tulisnya.

Untuk menjalankan operasinya, PT SAE harus memiliki Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) yang dikeluarkan oleh Kementerian Kehutanan. Per 22 Agustus 2014, Kementerian Kehutanan mengeluarkan izin seluas 44 hektar. Namun per 5 Oktober 2016, PT SAE telah mengantongi IPPKH seluas 488,28 hektar.

Dampak yang telah terjadi Akhir-akhir ini, celeng (babi hutan) makin sering masuk ke pemukiman masyarakat sekitar lereng Gunung Slamet. Celeng-celeng itu doyan sekali makan umbi-umbian yang ditanami kaum tani.

Petani pinggiran hutan di Dusun Semaya, Desa Sunyalangu, Karanglewas, disebut menjadi saksi atas fenomena ini. Di Desa Kemutug Kidul, Baturraden, bahkan sempat didatangi ratusan kera gunung yang menyerang wilayah pertanian penduduk setempat.

Peningkatan aktivitas turunnya hewan-hewan ke area masyarakat ini, seiring dengan berlangsungnya proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di Gunung Slamet. Habitat utama hewan-hewan tersebut ini awalnya ada di hutan lindung Gunung Slamet, terutama di area Rawa Taman Dringo dan Bukit Rata Amba.

Sepanjang November 2016 sampai Maret 2017 lalu, juga sempat terjadi pencemaran air sungai di Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. Hulu Sungai Prukut juga sempat berubah warnanya, menjadi merah kecoklatan. Padahal sungai tersebut selama ini menjadi sumber air bagi Desa Sambirata, Karang Tengah, Gunung Lurah, Panembangan, dan Kalisari.

Potensi Kerusakan
Proyek PLTP ini, berpotensi mengancam keseimbangan ekosistem Gunung Slamet. Berbagai fenomena turunnya satwa liar ke wilayah masyarakat akan menjadi lebih sering, dan akan semakin banyak desa yang bisa terdampak.

Sistem hidrologi juga sangat terancam, penurunan kuantitas maupun kualitas sumber mata air sangat mungkin terjadi. Kedua hal ini tentu akan berdampak pula pada kegiatan produktif masyarakat, terutama pada sektor-sektor yang mengandalkan keseimbangan alam Gunung Slamet seperti pertanian.

Celakanya proyek sebesar Rp7 Triliun ini hanya diwajibkan Dokumen UKL-UPL, bukan Dokumen AMDAL yang setara dengan usaha bengkel di Pinggir jalan. Parahnya lagi, proyek ini tidak menjunjung kaidah-kaidah konservasi.

Hari ini negara lebih berpihak pada pemodal dan korporasi, bukan kepada masyarakat dan kelestarian alam. Risiko dan bahaya yang besar akan segera dirasakan masyarakat ketika proyek ini diteruskan.

“Maka dari itu, mari galang dukungan demi lestarinya hutan lindung Gunung Slamet!” tulis petisi itu. Tidak ada kompromi atas hal ini. Proyek PLTP Baturraden harus dihentikan dari Gunung Slamet. Menjaga alam bukan hanya kewajiban pecinta alam dan aktivis, ini adalah Perjuangan dan Jihad bersama!” tulis petisi itu.

Petisi yang bisa diakses melalui https://www.change.org/p/pak-jokowi-cabut-izin-pltp-baturaden itu, sudah ditandatangani lebih dari 110 ribu orang.

Pos terkait