Banyumas Nang Umah Bae, Pedagang Keliling: ‘Bodoa Ngonoh!’

  • Whatsapp
Pedagang kaki lima (PKL) di Jalan Jenderal Sudirman, Kamis (4/2/2021). (HESTEK.ID/Gilang Grahita)

BANYUMAS, hestek.id – Program ‘Jawa Tengah Dirumah Saja’ terus menuai kritik dari wong cilik. Tanggapan datang dari para pedagang kaki lima (PKL) dan pedagang keliling di Purwokerto.

Agus, pedagang cilok keliling di wilayah Purwokerto Utara mengaku akan tetap nekat berjualan walau ada surat edaran dari Bupati Banyumas, @ir_achmadhusein.

Bacaan Lainnya

“Cilok jalan terus, bodoa ngonoh. Kalau dirumah saja ya kita tidak makan,” katanya kepada hestek.id, Kamis (4/2/2021).

Agus mengungkapkan, penghasilannya semenjak pandemi sudah babak belur. Jika ditambah kebijakan-kebijakan yang kata Agus aneh, pihaknya merasa semakin tercekik.

“Semenjak Covid, pendapatan saya sudah pas-pasan. Di rumah padu bae karo bojone. Kalau semua di rumah saja, pembeli ya bakal makin sepi, arep mangan apa?” tukasnya.

Berbeda dengan Tio, juru parkir di indomart Jalan Overste Isdiman Purwokerto. Dia tidak bisa berbuat banyak jika toko modern yang dia jaga tutup akhir pekan ini.

“Ini si belum dikasih tau mau tutup apa enggak, tapi kayaknya si tutup. Mau gimana lagi, kalau tutup ya kita ikut libur,” katanya.

Dia menambahkan, adanya pembatasan jam operasional saja sudah memangkas pendapatanya sebagai juru parkir. Ditambah dia harus bergantian shif dengan rekan seprofesi setiap harinya.

“Ini kan gantian markirinya, saya kebagian siang sampai malam. Per hari ya paling banyak sekitar Rp 30 ribu, ora mesti lah,” ujarnya.

Senada dengan Darwo, pedagang kopi di area pertokoan eks Kodim-Duta Mode yang wajib tutup pada tanggal 6-7 nanti.

“Ya wong cilik bisa apa, manut bae karo nduwuran. Kalaupun buka, siapa juga yang mau beli?” pungkasnya. (CR2)

Pos terkait