LUANDA, HESTEK.id – Islam adalah agama minoritas di Angola. Wikipedia melansir berbagai sumber menyebut jumlahnya kurang dari 100 ribu jiwa. Kebanyakan Islam di Angola merupakan imigran dari Afrika Barat keturunan Lebanon dan Timur Tengah yang merupakan Sunni. Imigran juga datang dari negara seperti Mali, Nigeria, serta Senegal.

Imigran kebanyakan merupakan pedagang. Islam baru dikenal di negara ini pada tahun 1990an.

Baru-baru ini, di tahun 2018 kembali beredar kabar di Indonesia yang viral di sosial media jika Angola menjadi negara pertama yang melarang Islam.  Lalu benarkah kabar ini? Redaksi Hestek mencoba mengumpulkan bagaimana kabar ini bisa kembali viral.

Angola yang pernah menjadi jajahan Portugis dan baru merdeka pada tahun 1975 tidak hanya kemudian mengadaptasi bahasa Portugis tetapi juga agama. Adebayo Oyebade dalam bukunya Culture and Customs of Angola menulis, sejak kedatangan Portugis pada abad ke-15, Kristen menjadi agama yang dianut mayoritas warga Angola.

Pada awalnya organisasi Islam di Angola mendirikan berbagai masjid, muslim dan pusat komunitas. Hingga kemudian pada tahun 2013, pemerintah Angola kemudian memberlakukan aturan jika semua komunitas Islam ilegal. Akibatnya masjid banyak yang ditutup.

Kabar penutupan masjid dan pelarangan Islam selalu mencuat hampir setiap tahun di Angola. Pada November 2013, Reuters melaporkan jika pemerintah Angola menolak pendaftaran organisasi Islam dan menutup masjid yang dianggap ilegal karena tidak sesuai dengan hukum nasional mereka. Walaupun demikian mereka menolak tindakan persekusi bagi umat Islam.

Saat itu, Angola yang merupakan produsen minyak nomor 2 di Afrika mendapat banyak kritik dari media Internasional sebagai negara yang “melarang Islam”. Angola kemudian merasa malu terhadap pemberitaan tersebut terutama karena OPEC didominasi oleh negara-negara mayoritas Islam.

Saat itu pemerintah Angola mengumumkan jika mereka hanya menolak permohonan pendaftaran organisasi berbasis agama termasuk Islamic Community of Angola (COIA). Pemerintah Angola juga menambahkan bahwa organisasi agama lain juga ikut ditolak.

Pada tahun 2016, berita serupa muncul kembali. BBC dalam beritanya berjudul The persistent myth that Islam was banned in Angola mengungkapkan sejumlah fakta penting. Salah satunya bahwa, isu ini berkaitan dengan pemilihan presiden.

BBC menampilkan gambar bagaimana Angola tetap menginjinkan umat Islam beribadah termasuk menampilkan gambar masjid yang berada di Angola.

Adam Campos, seorang warga muslim Angola yang diwawancara BBC mengungkapkan bahwa justru muslim di Angola terus tumbuh setiap hari.

Walau demikian Adam Campos memberikan informasi jika memang betul ada beberapa masjid yang dihancurkan pihak pemerintah. Penghancuran ini bukan karena pemerintah melarang Islam tetapi karena masjid tersebut dibangun tanpa ijin.

“Islam tidak dilarang di Angola, kami memang menemui kesulitan seperti halnya agama minoritas lainnya, karena pemerintah belum mengenal kami,” ungkapnya seperti dilansir BBC.

Kabar mengenai perkembangan Islam di Angola juga sempat diberitakan Republika pada 2017 lalu. Lewat tulisan berjudul Komunitas Muslim di Angola Tumbuh Perlahan, Republika memberitakan dalam kurun beberapa tahun terakhir, komunitas Muslim di Angola tumbuh perlahan.

Di beberapa kota besar, Islam dan Muslim semakin jamak ditemukan. Masjid dan sekolah pendidikan Alquran juga dibangun.