Hestek.ID, Di tengah hiruk-pikuk lalu lintas perkotaan, seorang polisi lalu lintas di Makassar, Bripka Jumahir, atau yang akrab disapa Bripka Mahir, muncul dengan pendekatan yang menyegarkan. Ia bukan sekadar penegak hukum, melainkan seorang edukator yang gigih menyuarakan pentingnya tertib berkendara melalui tagar khasnya, "Kembali ke Jalan yang Benar." Ungkapan ini menjadi seruan humanis untuk mematuhi aturan dan mengutamakan keselamatan.
Kiprahnya yang luar biasa dalam membentuk kesadaran masyarakat telah mengantarkannya pada nominasi Hoegeng Awards 2026, sebuah penghargaan bergengsi yang diberikan kepada anggota Polri yang menunjukkan integritas dan teladan. Sebagai Bintara Satlantas Polrestabes Makassar, Bripka Mahir juga aktif memanfaatkan platform media sosial sebagai kanal utama untuk berbagi aktivitas dan misi edukasinya kepada publik.
Pendekatan Bripka Mahir menekankan pada dialog dan pemahaman, alih-alih langsung pada sanksi. Ia meyakini bahwa kesadaran yang tumbuh dari edukasi akan lebih langgeng dibandingkan kepatuhan yang dipaksakan melalui penindakan semata. Filosofi ini menjadi inti dari setiap interaksinya di jalan raya, menciptakan resonansi positif di kalangan warga.
Salah satu pihak yang merasakan langsung dampak positif dari pendekatan Bripka Mahir adalah Wanny, seorang pegawai di dealer sepeda motor yang kerap berkampanye mengenai keselamatan berkendara. Wanny menuturkan bahwa kehadiran Bripka Mahir sangat membantu upaya mereka. Ia menilai Bripka Mahir memiliki karakter yang "berbeda dari yang lain," menonjol di antara aparat kepolisian pada umumnya.
Wanny menguraikan bahwa Bripka Mahir lebih sering mengedepankan edukasi ketimbang penilangan. Penindakan hukum baru akan dilakukan jika pelanggaran sudah terjadi secara berulang kali, setelah serangkaian teguran dan peringatan. Prioritas utamanya adalah membimbing, bukan menghukum.
Sebagai contoh, Wanny menceritakan situasi ketika Bripka Mahir menemukan pengendara motor yang tidak mengenakan helm. Alih-alih langsung mengeluarkan surat tilang, petugas tersebut akan meminta pengendara untuk mengambil helm terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan. Tindakan ini merupakan cerminan dari pendekatan persuasifnya.
"Ia tidak langsung menindak dengan tilang, melainkan mengedukasi penggunaan helm yang benar," jelas Wanny. "Ada catatan khusus bagi pelanggar yang sudah ditegur, sehingga jika mereka mengulangi kesalahan yang sama, barulah penindakan akan dilakukan." Ini menunjukkan sistem pembinaan yang terstruktur dan berjenjang.
Integritas Bripka Mahir juga terlihat jelas dari kesaksian Wanny mengenai praktik "uang damai." Wanny menegaskan bahwa Bripka Mahir tidak pernah menerima tawaran suap dari pengendara yang melanggar aturan. Sebaliknya, Bripka Mahir justru sering kali mengeluarkan uang pribadinya untuk membantu warga yang kesulitan di jalan.
"Ia lebih rela mengeluarkan uang untuk membantu orang lain, bukan mengambil dari mereka," ujar Wanny. "Jika ia sudah menilang seseorang, itu berarti pelanggarannya memang sudah sangat parah dan tidak bisa lagi ditoleransi dengan edukasi." Kejujuran ini memperkuat citra positifnya.
Wanny juga menekankan bahwa setiap aksi edukasi yang dilakukan Bripka Mahir bukan sekadar untuk kepentingan konten media sosial, melainkan lahir dari ketulusan hati. Dedikasinya murni untuk mengajak masyarakat agar benar-benar tertib dalam berlalu lintas, bukan sekadar mencari popularitas.
Ketika dihubungi, Bripka Mahir sendiri mengisahkan bagaimana ia menerapkan pendekatan humanis dalam menjalankan tugasnya. Ia menjelaskan bahwa para pelanggar tidak langsung ditilang, melainkan diberikan pemahaman mendalam agar tidak mengulangi kesalahan serupa di kemudian hari. "Tujuan utama kami adalah mengedukasi agar mereka tertib," katanya.
Setiap kali menemukan pelanggaran, Bripka Mahir selalu mendokumentasikannya melalui rekaman video. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa setiap tindakan yang ia lakukan sesuai dengan prosedur dan dapat dipertanggungjawabkan. Ia juga dengan tegas menolak segala bentuk upaya "uang damai" atau pungutan liar dari pengendara.
"Apabila ada upaya untuk mengajak bersekongkol atau melakukan pungli, kami akan merekamnya sebagai bukti," tegas Bripka Mahir. "Semua harus diselesaikan sesuai prosedur yang berlaku, tanpa ada penyimpangan." Prinsip transparansi ini menjadi fondasi dalam setiap pekerjaannya.
Berbagai nominal uang, mulai dari puluhan hingga ratusan ribu rupiah, sering kali ditawarkan oleh pengendara yang mencoba menghindari sanksi. Namun, Bripka Mahir selalu teguh pada pendiriannya untuk tidak menerima tawaran suap tersebut. Ia percaya bahwa integritas adalah harga mati bagi seorang aparat penegak hukum.
Alih-alih menerima uang haram, Bripka Mahir memilih untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya sportifitas dan mengakui kesalahan. Ia mendorong warga untuk tidak mengulangi pelanggaran. "Jika melanggar, akui saja dengan sportif dan jangan ulangi," sarannya. "Petugas kepolisian akan membantu selama pelanggarannya tidak fatal."
Bripka Mahir juga memberikan peringatan keras kepada siapa pun yang berani mencoba menyuap petugas. "Apabila ada yang mencoba memaksa atau menyogok, akan kami videokan dan viralkan," ancamnya, menunjukkan keseriusannya dalam memberantas praktik korupsi di jalan.
Ia menceritakan beberapa intervensi unik yang pernah dilakukannya. Jika ada pengendara yang melawan arus, Bripka Mahir akan dengan sabar meminta mereka untuk berputar kembali ke jalur yang benar. Pendekatan ini lebih mengedepankan koreksi langsung daripada penindakan formal.
Untuk pengendara yang tidak memakai helm, ia memiliki beberapa solusi inovatif. "Saya akan meminta mereka menelepon keluarga untuk membawakan helm, atau jika tidak memungkinkan, saya sewakan Grab dengan uang pribadi agar mereka bisa pulang mengambil helm," jelas Bripka Mahir. "Bahkan, saya pernah meminjamkan helm dinas saya sambil menunggu mereka membawa helm sendiri."
Bripka Mahir telah mengabdi di satuan lalu lintas selama 13 tahun. Namun, penggunaan media sosial sebagai sarana edukasi baru ia mulai pada tahun 2024. Keputusan ini didorong oleh keresahan masyarakat akan maraknya pelanggaran melawan arus di berbagai ruas jalan yang semakin padat.
Sejak aktif di media sosial, Bripka Mahir secara rutin mengunggah konten yang menampilkan aktivitas dan tugas hariannya. Langkah proaktif ini mendapatkan sambutan yang sangat positif dari masyarakat. "Alhamdulillah, sejak viral, banyak masyarakat menyampaikan apresiasi," ujarnya.
Dampak lainnya adalah peningkatan kepatuhan. "Dengan adanya saya, semakin banyak masyarakat yang takut melanggar karena khawatir bertemu saya dan diviralkan," tambahnya. Ini menunjukkan bahwa visibilitas dan transparansi dapat menjadi alat yang efektif dalam penegakan disiplin.
Bripka Mahir memiliki misi besar untuk mengubah citra polisi lalu lintas yang selama ini kerap dipandang negatif oleh sebagian masyarakat. Ia meyakini bahwa citra Polri secara keseluruhan akan membaik jika polisi lalu lintas juga dipandang baik. "Polantas yang baik adalah yang dicintai dan diharapkan kehadirannya oleh masyarakat," ucapnya.
"Polantas seharusnya tidak ditakuti, melainkan dipercaya," imbuh Bripka Mahir. Motivasi inilah yang mendorongnya untuk terus berusaha memperbaiki citra polantas, dan pada akhirnya, citra Kepolisian Republik Indonesia di mata publik. Ia ingin kehadirannya dirasakan sebagai penjaga ketertiban yang humanis.
Mengenai asal-usul tagar "Kembali ke Jalan yang Benar," Bripka Mahir menjelaskan bahwa ungkapan itu terinspirasi dari tugasnya sehari-hari yang kerap meminta masyarakat untuk mematuhi aturan dan kembali ke jalur yang semestinya. Awalnya, ide ini muncul setelah masyarakat menginginkan dirinya memiliki ciri khas atau "brand" tersendiri.
"Seminggu setelah video saya viral, ide itu muncul secara tak sengaja, kebetulan saat bulan puasa," kenangnya. Ia menyadari bahwa ungkapan tersebut memiliki makna yang lebih luas. "Kembali ke jalan yang benar bukan hanya berlaku di bidang lalu lintas, tetapi juga bisa diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan." Tagar ini pun diterima dengan baik oleh berbagai kalangan.
Bripka Mahir juga memegang teguh sebuah prinsip yang menjadi landasan dalam setiap pengabdiannya di kepolisian. "Jabatan dan pangkat itu hanyalah sementara, bisa hilang atau dicabut kapan saja," tuturnya. "Namun, orang-orang akan selalu mengingat bagaimana kita memperlakukan mereka saat kita masih memiliki jabatan." Ini adalah cerminan dari komitmennya terhadap pelayanan tulus dan legasi positif.