Dituding Langgar UU Lingkungan Hidup, Pengusaha Ayam Petelur di Banyumas Mengaku Diperas Oknum Polisi

  • Whatsapp
Para pekerja di Putra Jawa Farm menggelar aksi membentangkan poster bertuliskan protes atas ancaman penutupan tempat mereka bekerja, Selasa (26/1/2021). HESTEK/Dedy

PURWOKERTO, hestek.id – Seorang pengusaha ayam petelur di Desa Limpakuwus Kecamatan Sumbang, mengaku diperas sejumlah oknum polisi. Pemilik Putra Jawa Farm, Gembong Heru Nugroho, peternakannya dituding melanggar undang-undang lingkungan hidup.

“Kami merasa diperas oleh oknum aparat kepolisian Polresta Banyumas, mereka meminta uang Rp 90 juta. Kalau tidak, peternakan kami diancam ditutup paksa,” katanya, Selasa (26/1/2021).

Bacaan Lainnya

Gembong yang juga Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Banyumas itu mengaku, intimidasi dari aparat sudah terjadi sejak awal 2020 lalu. Saat itu, anaknya yang mengelola peternakan Mario Suseno (40) beberapa kali didatangi oknum kepolisian dari unit 4 Reskrim.

“Mungkin untuk menghentikan kasus yang dituduhkan ke peternakan ini, tetapi saya tidak mau (memberikan uang Rp 90 juta),” ujarnya.

Gembong merasa, usaha peternakan yang menghidupi 90 pekerja miliknya itu sudah memiliki izin lengkap. Tetapi oknum aparat tersebut seakan mencari kesalahan hingga mempermasalahkan izin lingkungan hidup.

“Katanya usaha ayam petelur penternakan rakyat ini, harus ada UKL-UPL (Upaya Pengeloaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup, red). Kami dibidik di situ,” katanya.

Polisi mengaku mendapat laporan dari warga, bahwa peternakan yang dikelolanya menyebabkan polusi air bawah tanah, dan mempermasalahkan penerangan menggunakan diesel.

“Semuanya tidak terbukti,. Saya kira ini hanya dicari-cari oleh oknum polisi yang mencari penderitaan kami sebagai peternak,” ujar dia.

Dia sempat menemui petugas di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banyumas, untuk meminta bantuan terkait perizinan yang dianggap belum lengkap.

Atas persoalan tersebut, Mario putranya, ditetapkan sebagai tersangka dugaan pelanggaran Pasal 190 Jo Pasal 36 ayat (1) UU RI No 32 Tahun 2009 tentang perlindangan dan pengelolaan lingkungan hidup.

“Sudah sidang perdana, besok sidang lagi pemanggilan saksi dan saya dijadikan saksi,” ujarnya.

Dikonfrimasi terpisah, Kasat Reskrim Polresta Banyumas, Kompol Berry mengaku, terkejut dengan pernyataan Gembong terkait dugaan pemerasaan yang dilakukan oleh oknum anggotanya.

“Kita kroscek ke anggota, kepolisian tidak boleh begitu. Kalau memang diminta dana, dipastikan diminta dari pihak mana,” ujar dia.

Kasat juga mengaku, tidak kenal dengan Gembong. Terkait kasusnya itu, pihaknya sudah bekerja sesuai prosedur.(Dedy)

Pos terkait