Hestek.ID, Jakarta – Suasana haru yang pekat menyelimuti area kargo Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Sabtu sore, 4 April 2026. Di bawah langit yang sedikit mendung, ribuan pasang mata, baik dari jajaran militer maupun masyarakat, tertuju pada tiga peti jenazah yang terbungkus bendera Merah Putih. Hari itu, bangsa Indonesia kembali menyambut kepulangan tiga putra terbaiknya, para prajurit Kontingen Garuda UNIFIL, yang gugur dalam menjalankan misi perdamaian PBB di Lebanon.
Keheningan yang memilukan seketika menyelimuti seluruh area saat Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, tiba di lokasi. Kehadiran Kepala Negara di tengah prosesi penghormatan terakhir ini bukan sekadar menjalankan agenda protokoler, melainkan simbol kuat dari apresiasi tertinggi dan belasungkawa tulus dari seluruh rakyat Indonesia atas pengorbanan heroik para prajurit. Prabowo datang untuk memimpin langsung penghormatan nasional, sekaligus memberikan dukungan moral kepada keluarga yang berduka.
Di hadapan peti-peti jenazah yang bersanding, sanak keluarga para pahlawan duduk terpaku, wajah mereka memancarkan kesedihan tak terhingga. Tangis pilu tak kuasa mereka tahan, pecah di antara isak-isak tertahan, mencerminkan dalamnya luka kehilangan yang baru saja mereka alami. Setiap tetes air mata menjadi saksi bisu atas ikatan cinta dan pengorbanan yang kini terputus oleh takdir di medan tugas yang jauh.
Begitu tiba di area upacara, Presiden Prabowo tanpa ragu langsung menghampiri barisan keluarga yang paling dekat dengan peti jenazah. Dengan langkah perlahan dan penuh empati, ia menyalami satu per satu anggota keluarga, menyampaikan belasungkawa yang mendalam, dan membisikkan kata-kata penguatan. Sentuhan personal ini seolah menjadi penawar di tengah duka lara yang membekap, memberikan sedikit kehangatan di momen paling dingin.
Banyak dari mereka yang tak kuasa menahan luapan emosi saat Presiden menyentuh pundak mereka, mengusap punggung, atau bahkan memeluk erat anak-anak kecil yang kehilangan sosok ayah. Interaksi ini melampaui formalitas kepresidenan, menampilkan sisi kemanusiaan seorang pemimpin yang berempati penuh terhadap penderitaan rakyatnya. Gambaran itu menjadi pengingat bahwa di balik seragam dan pangkat, ada hati yang merasakan pedihnya kehilangan.
Setelah momen yang sarat emosi tersebut, Prabowo berdiri tegak di hadapan ketiga peti jenazah, memberikan hormat militer yang khidmat. Gerakan itu menjadi representasi dari penghormatan tertinggi negara kepada para patriot yang telah menunaikan janji bakti hingga titik darah penghabisan. Keheningan yang menyelimuti sesaat, dipecah hanya oleh deru napas dan isak tangis yang tertahan dari kerabat yang hadir.
Tidak berhenti di situ, Presiden juga menyempatkan diri untuk menyapa kerabat lain yang hadir, memberikan semangat dan keyakinan bahwa pengorbanan mereka tidak akan sia-sia. Ketiga prajurit ini adalah bagian dari Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL), sebuah mandat internasional untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan yang rentan konflik. Indonesia telah lama menjadi kontributor aktif dalam misi-misi perdamaian PBB, mengirimkan prajurit-prajurit terbaiknya untuk menegakkan kemanusiaan dan keadilan global.
Mereka yang gugur dalam tugas mulia ini adalah Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar, Sertu Muhammad Nur Ikhwan, dan Praka Farizal Rhomadhon. Sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi dan keberanian luar biasa mereka, pangkat ketiganya telah dinaikkan satu tingkat secara anumerta. Kenaikan pangkat ini bukan hanya sekadar formalitas, melainkan pengakuan resmi negara atas pengorbanan tertinggi yang telah mereka berikan.
Praka Farizal Rhomadhon menjadi korban pertama dari tragedi ini, gugur pada Minggu, 29 Maret, setelah sebuah proyektil tak dikenal meledak di dekat posisinya. Insiden mematikan itu terjadi di desa Adchit al-Qusayr, sebuah wilayah di Lebanon Selatan yang kerap menjadi titik panas konflik. Kepergiannya yang mendadak meninggalkan duka mendalam bagi rekan-rekan seperjuangan dan keluarga di tanah air.
Sehari berselang, pada Senin, 30 Maret, duka kembali menyelimuti Kontingen Garuda. Dua prajurit TNI lainnya, Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ikhwan, dinyatakan meninggal dunia. Mereka menjadi korban ledakan yang menghantam konvoi logistik UNIFIL di dekat Bani Hayyan, juga di Lebanon Selatan. Ledakan dahsyat tersebut juga menyebabkan dua prajurit lainnya menderita luka-luka, menambah daftar panjang risiko yang harus dihadapi oleh pasukan perdamaian.
Misi UNIFIL sendiri telah berdiri sejak 1978, bertujuan untuk mengonfirmasi penarikan pasukan Israel dari Lebanon, memulihkan perdamaian dan keamanan internasional, serta membantu pemerintah Lebanon dalam memulihkan otoritasnya di wilayah tersebut. Namun, wilayah operasi mereka sering kali berada di garis depan ketegangan geopolitik, menjadikan setiap patroli dan setiap pergerakan mengandung risiko yang tak terduga. Para prajurit Indonesia sadar akan bahaya ini, namun tetap melangkah maju demi komitmen pada kemanusiaan.
Tepat pukul 17.57 WIB, tiga peti jenazah yang terbungkus bendera Merah Putih tiba di Bandara Soekarno-Hatta, diangkut dengan pesawat khusus militer. Kedatangan mereka disambut dengan upacara militer yang khidmat, diiringi dentuman genderang duka dan barisan prajurit TNI yang memberikan hormat. Suasana haru semakin pekat terasa, mengiringi setiap langkah peti jenazah yang perlahan diturunkan dari pesawat.
Prosesi penyemayaman singkat di Bandara Soetta, sebelum jenazah dibawa ke daerah asal masing-masing, menjadi titik kumpul para petinggi negara. Selain Presiden Prabowo, turut hadir pula sejumlah pejabat tinggi yang menunjukkan soliditas dan penghormatan pemerintah. Mereka semua berdiri bersama, menunjukkan bahwa negara tidak akan pernah melupakan jasa dan pengorbanan para pahlawannya, bahkan di tengah duka yang mendalam.
Di antara para hadirin tampak Menteri Luar Negeri Sugiono, Wakil Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Lodewijk F. Paulus, serta Wakil Menteri Pertahanan Donny Ermawan Taufanto. Jajaran pimpinan militer dan kepolisian juga hadir lengkap, termasuk Wakil Panglima TNI Jenderal Tandyo Budi Revita, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, dan para kepala staf angkatan dari ketiga matra. Kehadiran mereka menegaskan pentingnya acara ini bagi negara.
Tangis keluarga kembali pecah saat mereka diberi kesempatan untuk memeluk peti jenazah untuk terakhir kalinya. Pelukan itu adalah perpisahan terberat, sebuah ungkapan kasih sayang yang tak terucap, janji untuk selalu mengenang. Momen ini menjadi puncak dari kesedihan kolektif, sebuah gambaran nyata dari harga mahal sebuah perdamaian yang diperjuangkan di negeri orang.
Pengorbanan Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar, Sertu Muhammad Nur Ikhwan, dan Praka Farizal Rhomadhon akan selalu tercatat dalam lembaran sejarah bangsa. Mereka adalah simbol keberanian, dedikasi, dan komitmen Indonesia terhadap misi perdamaian dunia. Kepergian mereka meninggalkan duka, namun juga mewariskan semangat patriotisme yang tak lekang oleh waktu, menjadi inspirasi bagi generasi penerus bangsa.
Melalui kehadiran Presiden dan seluruh jajaran tinggi negara, pesan yang disampaikan sangat jelas: Indonesia berduka, namun juga bangga memiliki putra-putri terbaik yang rela mengorbankan segalanya demi kemanusiaan. Peristiwa ini mengingatkan kembali akan bahaya yang selalu mengintai pasukan penjaga perdamaian, serta pentingnya dukungan dan doa dari seluruh elemen bangsa bagi mereka yang bertugas di garis depan.
Sumber: news.detik.com