FPKS: Kebijakan Bupati Husein Soal Covid-19 Cuma Bikin Resah, Efektivitasnya Tak Terukur

  • Whatsapp
Ketua Fraksi PKS, DPRD Kabupaten DPRD, Setya Ari Nugraha. (HESTEK.ID/Istimewa)

PURWOKERTO, hestek.id – Kebijakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyumas terkait penanggulangan Covid-19 dinilai kurang efektif. Selain itu, kebijakan pemerintah juga dianggap tidak konsisten, sehingga membuat masyarakat bingung.

Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Banyumas, Setya Ari Nugraha.

Bacaan Lainnya

Saat dihubungi hestek.id, Rabu (3/2/2021), pemilik akun Instagram @setyaarinugroho ini melihat pemerintah seperti hobi sekali menakut-nakuti masyarakat. Setelah pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), kini muncul lagi program ‘Jawa Tengah di Rumah Saja’.

“Kehebohan ini kan hanya seperti formalitas belaka. Malah menimbulkan kecemasan dan kucing-kucingan saja dengan masyarakat. Malah nggak efektif,” katanya.

Menurut Ari, kebijakan serupa lockdown yang serba tanggung ini seharusnya dilakukan jauh-jauh hari sebelum wabah merebak di Banyumas. Baginya, kebijakan ini tidak akan menyelesaikan masalah, justru membuat masyarakat semakin tercekik.

“Jangan malah membuat panik dan resah warga,” katanya.

Dia mencontohkan program penyekatan dan rapid tes di perbatasan yang menghebohkan jagad Banyumas Raya, baru-baru ini. Saat program itu diutarakan kepada awak media, warga yang bekerja lintas kabupaten jelas panik. Namun saat pelaksanaan di lapangan, dia tidak melihat ada hal yang lain kecuali formalitas dan sensasi.

“Kemarin masyarakat juga dibuat bingung dengan adanya tes rapid antigen, ternyata nggak efektif karena hanya random. Masarakat dibuat panik harus mengeluarkan biaya untuk rapid. Hasilnya sama saja,” katanya.

Hal lain yang dia soroti adalah soal rencana anggaran untuk penanggulangan bencana nonalam Covid-19. Di Kabupaten Banyumas, kata dia, anggaran yang digelontor untuk Covid-19 besarnya berkali lipat dibanding kabupaten tetangga.

Namun, uang yang miliaran itu ternyata tidak membuat statistik wabah Covid-19 di Banyumas lebih baik dari kabupaten tetangga.

“Dari awal kebijakan, secara umum ternyata jumlah penderita Covid di Bayumas tetap linear, (cenderung, red) naik malah. Sedangkan kabupaten lain yang tidak menganggarkan seperti di Banyumas tetap sama. Artinya apa yang diupayakan ini efektifitasnya perlu ditinjau kembali,” katanya.

Ari mengungkapkan, sudah saatnya pemerintah berhenti membuang-buang energi untuk membuat sensasi. Masyarakat seharusnya diberikan optimisme bukan malah ditakut-takuti. Optimisme inilah yang menurut Ari akan berimbas besar terhadap imunitas masyarakat.

“Fokus vaksinasi dan maksimalkan sosialisasi protokol kesehatan (prokes). Isu vaksinasi juga masih simpang siur. Ini jauh lebih riil dan membuat masyarakat optimis,” pungkasnya. (Anas Masruri)

Pos terkait