MAKASSAR, HESTEK.id – Dua anak muda jadi motor berdirinya Fraksi Muda Indonesia atau FMI. Keduanya adalah Nurhidayatullah B. Cottong dan Muh. Dadang Wardana Mas Bakar. Organisasi yang fokus pada pendidikan politik untuk pemuda ini baru berdiri 28 Oktober tahun lalu.

Sekalipun tergolong baru, namun FMI telah melangkah jauh. Kabupaten Bone, Selayar, Takalar, Pinrang dan beberapa daerah lainnya telah terbentuk. Hidayat ketua FMI, demikian ia di sapa menyebut, untuk beberapa provinsi bahkan sedang dalam tahap perampungan struktur.

Fraksi Muda Indonesia (FMI) merupakan organisasi kepemudaan yang concern pada pendidikan politik pemuda di Indonesia, tampil sebagai sebuah terobosan baru, berani mengambil fokus yang terbilang pro-kontra pada pemuda, “politik”, sebuah kata yang rumit didefinisikan.

Sebab politik menurut Hidayat, merupakan salah satu bagian paling berpengaruh dalam sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Fraksi Muda Indonesia ini telah merancang program pendidikan yang sedikitnya mengubah mindset anak muda agar tidak alergi politik. Sebagaimana taglinenya “anak muda melek politik”.

Pendidikan tersebut bertajuk “Mentorship Program”. Program ini bersifat wajib yang menandakan sebuah keseriusan Fraksi Muda Indonesia dalam menggalang anak muda dari berbagai perwakilan perguruan tinggi untuk mengikuti program tersebut.

Dengan sistem itu, maka diskusi, talkshow, dan kajian-kajian lintas profesi yang mengarah pada “pendidikan politik” intens dilakukan, pemikiran-pemikiran tentang sistem demokrasi di Indonesia, hingga hal terkecil dalam sebuah “ranah politik” dikupas tuntas.

Bahkan, Hidayat membeberkan isu-isu terhangat yang tengah terjadi di negeri ini adalah salah satu bagian terpenting dari kajian FMI, belum lama ini “Partai vs Independen” yang begitu marak diperbincangkan, mengulas dengan mempertemukan berbagai pimpinan parpol, pro kontra terjadi hingga menghasilkan sebuah dinamika edukasi politik yang santun.

Ke depan, tidak hanya sekali, dirinya berjanji di bawah kendalinya, FMI akan membahas isu-isu hangat lainnya, baik isu nasional, daerah provinsi hingga kabupaten/kota yang dianggap mampu menjadi ruang pemikiran yang baru terhadap pendidikan politik anak muda masa kini.

Pemuda asal Sinjai ini berspekulasi ke depan, output terbesar dari FMI adalah munculnya tokoh politik yang santun, memegang prinsip yang teguh untuk membangun bangsa dan negara lebih beradab.(Riadi Mappahata)