JAKARTA, HESTEK.id – Gatot Kaca adalah nama sapi Belgian Blue pertama di Asia Tenggara yang tengah dikembangkan di Indonesia. Membedakan sapi Gatot Kaca dengan sapi lainnya karena sapi ini merupakan sapi yang dilahirkan melalui metode Tranfer Embrio, yang ditanam ke rahim sapi lokal. Karena itu Gatot Kaca dipelihara di Balai Embrio Ternak Cipelang (BET), di Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

BET Cipelang Bogor berhasil memproduksi satu ekor sapi hasil dari teknologi transfer embrio yang dibawa langsung dari Belgia dan diindukkan pada sapi jenis Simmental di Indonesia. Ini merupakan sapi hasil transfer embrio pertama yang ada di Asia Tenggara.

Sapi ini menggunakan sperma dari Belgian Blue Cattle, sapi asal Belgia yang bobotnya bisa mencapai 1,5 ton dalam waktu dua tahun. Dengan berat seperti itu, Belgian Blue memiliki bobot 2 kali lebih berat dibandingkan sapi Limosin atau 10 kali lipat dari sapi lokal dalam waktu yang sama.

Gatot Kaca lahir pada tanggal 30 Januari 2017. Nama Gatot Kaca diberikan oleh Direktur Pembibitan dan Produksi Ternak Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Surachman Suwardi. Sapi ini diharapkan mampu menghasilkan keturunan dengan mutu genetik yang unggul dan memberikan andil besar bagi pemenuhan kebutuhan daging nasional.

“Kita tengok “Gatot Kaca” sapi Belgian Blue di BET Cipelang yang hari ini genap berumur 1 tahun.
Saat ini beratnya sudah berapa ya kira-kira?Dengan badan segede gitu… Ternyata Berat Badannya sudah mencapai 377 kg. Selamat Ulang Tahun ya…buat “Gatot Kaca” sapi Belgian Blue hasil Transfer Embrio,” tulis akun Facebook Ditjen PKH Kementan RI seraya memamerkan foto sapi Gatot Kaca.

Selain Gatot Kaca, BET juga berhasil melakukan transfer embrio pada sapi lainnya yang lahir pada 9 Desember 2017 lalu yang diberi nama Srikandi yang diberikan langsung oleh Menteri Pertanian Amran Sulaiman. Srikandi diharapkan bisa menjadi sapi donor untuk pengembangan sapi Belgian Blue lainnya.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman menginginkan adanya pengembangbiakan sapi jenis Gatotkaca secara massal di Indonesia. Untuk itu, Kementerian Pertanian akan menambah anggaran menjadi Rp 100 miliar bagi program pengembangbiakan bibit sapi unggul di 2018.

Anggaran tersebut naik lima kali lipat dibandingkan tahun ini yang sebesar Rp 20 miliar. Menurut Amran, pengembangbiakan sapi Gatotkaca memang terbilang mahal. Bahkan harga sperma atau semen bekunya setiap straw dosis bisa mencapai Rp 15 juta.