MAKASSAR, HESTEK.id – Warung kopi kini jadi rumah kedua bagi sebagian orang, beberapa diantaranya menyebut sebagai kantor pribadi. Untuk memenuhi ekspektasi tersebut beberapa warung kopi rela menyediakan kebutuhan dasar pengunjungnya. Dari makanan ringan sampai berat, fasilitas wifi dan ruang ber-AC.

Lengkapnya berbagai fasilitas yang disediakan warung kopi  sehingga menemukan pengunjung yang betah duduk berjam – jam bukan lagi sesuatu yang aneh.

Institut Kopi yang beralamat di Jalan Manuruki 2, Makassar mengambil peluang berbeda. Meski tidak tergolong baru, Inskop sebutan untuk institut kopi, menyediakan sarana lain setiap hari jumat malam. Inskop menyediakan panggung khusus untuk tamu spesialnya.

Inskop yang baru berdiri tiga bulan lalu ini, rutin menghadirkan pembicara dari berbagai kalangan. Sebutlah Nur Amin Saleh, penulis Novel Tuhan Bercinta di Langit, atau Andi Saifuddin, Komisioner KPU Makassar, dan juga berbagai kalangan lainnya. Tema – tema tiap minggu juga berbeda, bisa tentang filsafat, politik, literasi atau budaya populer lainnya.

Rezha Septiandy atau Echa, mengatakan, kehadiran institut kopi untuk menghidupkan budaya diskusi yang tidak hanya untuk mahasiswa, namun buat pribadi sekaligus.

“Pekerjaan kantor selalu ada tiap saat, saya merasakan itu setiap hari. Inskop adalah sarana rehat sambil minum kopi. Untuk teman – teman, juga untuk saya, ” terang Echa, founder Institut Kopi yang sekaligus pegawai di Jasa Rahardja ini.

Belum cukup di situ, Inskop rupanya menawarkan paket beasiswa untuk pelanggan tetapnya. Mahasiswa yang tergolong kurang mampu tetapi berprestasi bisa mengajukan proposalnya di Inskop ini.

Humas Inskop, Adi Saputra menambahkan, diskusi yang bagus saat dalam posisi yang seimbang. Dimana yang terlibat aktif dan pasif sekaligus, me- dan di-, mendengar dan didengar, menyimak atau disimak, melihat dan dilihat.

“Ingat Maslow, puncak kebutuhan tertinggi manusia, yah aktualisasi diri,” sebutnya.

Seperti kekhawatiran sebagian kalangan, menjamurnya warung kopi telah menjadi budaya yang sekaligus momok dari terkikisnya ruang diskusi di kampus – kampus. Pergeseran tersebut menjadi jurang baru dari semakin rendahnya nalar kritis mahasiswa. (Riadi Mappahata)