LOMBOK, HETEK.id – Menteri Sosial Idrus Marham membuktikan komitmen kementeriannya untuk selalu bersama sama dengan korban gempa Lombok.

Untuk itu, dirinya ikut merayakan Idul Adha di tengah-tengah masyarakat Lombok Utara. Idrus Marham bahkan menjadi khatib sholat Idul Adha 1439 Hijriyah di Lapangan Tioq Tata Tunaq, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara, Rabu (22/8).

“Sejak awal bencana terjadi, posisi pemerintah sudah tegas. Sesuai arahan Presiden Joko Widodo, tidak boleh ada anak bangsa yang tidak diurus. Negara harus hadir. Negara harus menunjukkan tanggung jawabnya. Itu ditunjukkan dengan rehabilitasi dan rekonstruksi pascagempa semua rumah yang terkena dampak bencana, akan dibangun kembali,” kata Mensos dalam bagian khutbahnya.

Sholat Idul Adha yang berlangsung di lapangan yang menjadi Posko Utama Penanganan Bencana Gempa Lombok Utara dipimpin oleh Imam Muhammad Faiz Mentigi, diikuti ratusan pengungsi serta anggota TNI/Polri.

Tak lupa, Idrus Marham juga menyumbangkan hewan kurban dan menyerahkan pula sapi kurban Presiden Jokowi kepada Sekretaris Daerah Lombok Utara H. Suardi usai salat Idul Adha. Total ada 7 ekor sapi masing-masing  satu ekor dari Presiden Joko Widodo, Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Mensos Idrus Marham, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Kepala Badan Intelijen Negara Budi Gunawan, Wakil Kepala Bareskrim Polri Irjen Pol. Antam Novambar, dan Menteri Pemberdayaan Apatatur Negara Syarifudin.

Bukan Azab Tapi Ujian

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Sosial Idrus Marham menyampaikan pesan dukungannya kepada korban gempa.

“Orang berkomentar di media sosial gempa Lombok merupakan azab. Itu adalah kesesatan dan tidak berlogika,” ujar Idrus Marham dalam khutbahnya.

Idrus menegaskan, azab dari Allah SWT ditujukan kepada umat yang membangkang, sedangkan warga NTB dikenal sebagai umat yang memiliki keimanan tinggi. Bahkan, daerah tersebut dijuluki “Pulau Seribu Masjid”.

“Logika Islam, gempa bumi yang terjadi saat ini adalah ujian untuk mengingatkan warga NTB selalu berpegang pada keimanan dan ketaatan,” ujarnya.

Menurutnya, kita manusia harus selalu harus berbaik sangka (husnuzdhon), jangan sekali-kali berburuk sangka ( su’udzhon ) kepada Allah. Sebab sejatinya, apapun yang diberikan Allah kepada kita adalah yang terbaik bagi hamba-Nya.

Yang kedua, cara yang paling arif dalam menghadapi musibah sebagai orang beriman kita hendaknya mengembalikan semua ketentuan kepada Allah seraya berserah diri, memperkuat kesabaran, dan memohon pertolongan dan mendekatkan diri dengan solat.

Ketiga, sikap arif dalam menghadapi bencana adalah dengan mengambil hikmah di balik semua ujian ini. Boleh jadi ujian ini adalah surat cinta Allah kepada hamba-Nya.

Kemudian yang keempat, sebagai hamba yang beriman harus mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi rajiun . Seperti surat Al Baqarah 156, yang berbunyi: “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun’ ”.

“Harus kita ingat bahwa kita semua akan kembali kepada-Nya. Tatkala itu terjadi kita tidak akan membawa apa-apa. Tidak membawa kekayaan, tidak membawa jabatan. Yang kita bawa hanya iman, amal, dan ketakwaan,” katanya.

Lombok Bangkit dan Bangun Kembali

Tak lupa Idrus Marham mengajak masyarakat NTB untuk menjadikan momentum Idul Adha 1439 Hijriyah untuk bangkit kembali membangun Lombok. “Dengan dasar ketauhidan, pasti akan ada pertolongan. Tidak mungkin Allah SWT membiarkan hambanya mengalami ujian tidak sesuai kemampuannya,” ucap Marham

“Dengan semangat kesabaran, ketakwaan dan kebersamaan saya mengajak masyarakatl Lombok untuk bangkit kembali,” ujarnya.

Ajakan Lombok Bangkit dan Bangun Kembali seringkali digelorakan Menteri Sosial seusai kedatangan Wakil Presiden Jusuf Kalla saat memimpin Rapat Koordinasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascagempa yang berlangsung di Kantor Gubernur NTB pada Selasa, 21/8/2018.