Kasan Wolu, Tabuh Genderang Perang pada Perusak Alam dan Kejumudan Sastra Lokal

  • Whatsapp

PURBALINGGA, hestek.id – Sederet kalimat bertabur metafora di atas menjadi alinea pamungkas dalam cerita pendek (cerpen) ‘Kasan Wolu’ karya Teguh Pratomo. Cerpen yang ditulis untuk menggugat para perusak lingkungan ini dibedah dalam diskusi yang digelar di Griya Petualang Indonesia, Pakejen, Desa karangjengkol, Kutasari (29/3/2021) malam.

“Cerpen ini merupakan bentuk kemarahan saya terhadap kerusakan lingkungan yang terjadi di Purbalingga,” ujar Teguh.

Bacaan Lainnya


Cari Informasi Viral Di Kolom Pencarian

Aktivis dari Perhimpunan Pegiat Alam Ganesha Muda (PPA Gasda) ini mengungkapkan, salah satu kerusakan yang masif terjadi di kawasan Pegunungan Sisik Naga. Padahal, perbukitan yang berada di sisi utara di Purbalingga itu diklaim menjadi benteng hutan alam terakhir di Kota Perwira.

“Nah, di kawasan hutan alam itu ada cerita mengenai Suku Pijajaran atau Wong Alas Carang Lembayung yang salah satu tokohnya adalah Kasan Wolu,” ujarnya.

Lewat karyanya, Teguh berusaha menokohkan seorang Kasan Wolu yang murka akan kerusakan hutan yang terjadi di wilayahnya.

“Para perusak hutan saya gambarkan dengan empat perumpamaan yaitu para pemanggul kapak, para pembawa panah, perambah dan kekasih yang pura-pura,” katanya.

Dia menjelaskan, pemanggul kapak adalah simbolisasi dari pembalak liar, pembawa panah simbol dari pemburu liar, perambah adalah perambah hutan dan kekasih yang pura-pura adalah orang yang mengaku pecinta alam namun justru malah berlaku sebaliknya.

Teguh menambahkan, sebenarnya hutan memiliki kemampuan untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Namun kerusakan itu akan sukar disembuhkan jika timbul oleh tangan jahil manusia.

“Kita harus melawan itu dan saya mencoba melawan dengan karya sastra,” katanya.

Perjalanan Teguh sebagai seorang cerpenis memang terbilang cukup kilat. Sejak menelurkan karya pertama, ‘Perempuan yang Membakar Aksara’, nama Teguh semakin tersohor di kalangan pujangga lokal.

Karakter bahasa Teguh menjadi warna tersendiri dalam dunia sastra lokal di Banyumas Raya yang semakin kering. Anggapan itu menjadi sahih tatkala Teguh menerima penghargaan dalam Anugerah Sastra Banyumas Raya, Anargya Serayu Penawara untuk judul yang sama. (Gilang Grahita)

Pos terkait