AMERIKA, HESTEK.id – Silicon Valley selama ini digambarkan sebagai tempat kerja ideal yang menjadi mimpi sebagian besar millenial. Tetapi rupanya, di balik itu, beberapa waktu terakhir kita mendengar peristiwa yang dilatari oleh Bro Culture.

Apa itu Bro Culture? Tidak ada definisi yang bisa menjelaskan arti Bro Culture sesungguhnya. Tetapi secara umum, Bro Culture banyak dimaknai sebagai hubungan tidak seimbang dalam interaksi di tempat kerja. Misalnya saja seringkali kelompok maskulin menekan wanita supaya dirinya terlihat hebat.

TheNextWeb.com tidak membatasi istilah Bro Culture pada definisi di atas. Ia juga memberikan contoh bagaimana streotipe orang terhadap CEO kadang dimunculkan sebagai kulit putih, tanpa pengalaman, arogan dan juga tanpa moral.

Bro Culture seringkali dihubungkan dengan frat house culture dalam budaya mahasiswa di Amerika Serikat yang seringkali memiliki gaya hidup berpesta, amoral, ceroboh, dan susah diatur.

Terence Brake dalam tulisannya countrynavigator.com menyebut jika Bro Culture sering diasosiasikan dengan sikap percaya diri berlebih tetapi tidak berpengalaman.

Bro Culture di kantor Google merupakan peristiwa terbaru yang mencuat. Loretta Lee yang bekerja di Google dari tahun 2008 hingga 2016 mengajukan gugatan terhadap perusahaan raksasa di Silicon Valley tersebut terkait pelecehan, diskriminasi gender dan penghentian terhadap dirinya.

Loretta Lee mengajukan hal tersebut ke pengadilan negara bagian California. Demikian ditulis Guardian.

Sebelumnya, pada Juni 2017 lalu, mantan engineer Uber Susan Fowler juga mengungkapkan melalui blognya adanya budaya pelecahan perusahaan tersebut.

Fakta tentang Bro Culture di Silicon Valley yang menjadi kawasan perusahan IT terkemuka pernah dituliskan Emily Chang melalui buku “Brotopia: Breaking Up the Boys’ Club of Silicon Valley.”

Di buku itu, ia mengemukakan analisanya mengapa industri berbasis teknologi telah menipu diri mereka sendiri jika menganganggap bisa membuat dunia lebih baik tanpa membangun kesetaraan terhadap wanita.

Chang mengungkapkan Silicon Valley sebagai utopia modern sebagai tempat yang membuat semua orang bisa mengubah dunia jika ia laki laki, tetapi akan sulit jika Anda seorang perempuan.

Chang tak lupa merumuskan gagasan, jika Silicon Valley ingin menghapus bro culture maka perubahan harus dilakukan dari atas. CEO harus mengkomunikasikan keragaman pada seluruh karyawan, pemodal ventura harus mempekerjakan lebih banyak wanita serta menekan mitra mereka untuk memprioritaskan keberagaman. (berbagai sumber)