Menikmati Sensasi ‘Off-Road’ di Jalan Raya Sumbang yang Rusak Parah

  • Whatsapp
Angkutan desa dan sepeda motor melintasi Jalan Raya Sumbang yang rusak parah, Sabtu (30/1/2021). (HESTEK.ID/Gilang Grahita)

BANYUMAS, hestek.id – Ada sebuah desa yang mengangkat konsep wisata unik di Banyumas. Di desa itu, pengunjung bisa menikmati sensasi off-roading layaknya atlet Kejurnas.

Tidak perlu sewa mobil jeep, cukup pakai kendaraan pribadi. Tarifnya juga gratis, hanya siapkan dana cadangan jika sewaktu-waktu laher roda mobil patah atau ban motor pecah.

Bacaan Lainnya


Cari Informasi Viral Di Kolom Pencarian

Percaya tidak percaya, lintasan yang menantang itu bukan di tengah hutan, melainkan tepat berada di Jalan Raya Sumbang penghubung Desa Sikapat dan Desa Limpakuwus.

Jalan raya di sana rusak minta ampun. Lapisan aspal mengelupas sempurna, menyisakan bebatuan persis seperti sungai yang kering di musim kemarau.

Dari pengamatan tim hestek.id lubang-lubang sudah menyambut sejak Desa Ciberem. Pengendara masih bisa meliuk-liuk sambil menghindari lubang yang menganga di tengah jalan.

Memasuki Desa Gandatapa, pengendara baru benar-benar menyerah. Pasalnya, tidak ada satupun jalur mulus yang tersisa. Satu-satunya pilihan adalah menerjang jalan batu dengan kecepatan super lambat.

Truk tambang pasir

Angkutan truk tambang pasir melintasi Jalan Raya Sumbang yang rusak parah, Sabtu (30/1/2021). (HESTEK.ID/Gilang Grahita)

Sopir angkutan desa setempat, Sukirman (60) mengaku sudah paham betul dengan kondisi jalanan yang rusak.

“Udah tiap hari lewat sini, berasa kayak sopir off-road, ini angkot yang saya bawa juga sering kebanan (bocor, red) kalau lewat sini, batunya tajam-tajam,” katanya saat ditemui, Sabtu (30/1/2021).

Menurut dia, ramainya kendaraan truk tambang yang melintas membuat kerusakan jalan di Gandatapa semakin parah.

“Di sini kan banyak truk tambang lewat, kalaupun diaspal lagi ya paling umurnya setahun tok bakal gini lagi,” ujarnya.

Warga Desa Gandatapa, Sari mengungkapkan, kerusakan jalan sudah terjadi sejak tahun 2019, saat tambang pasir beroperasi.

“Ini kan dulu tambang pasirnya di bawah, terus pindah ke atas. Pas awal-awal, 30-40 truk tambang lewat sini tiap hari,” katanya.

Dia menambahkan, beberapa truk pengangkut pasir juga pernah terguling di area jalan yang  rusak.

“Pernah truk yang lewat sini beberapa ada yang oleng, sampai rodanya patah,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Norman (30) penduduk asal asal Watujaran, Desa Sikapat mengaku sudah malas lewat di Jalan Sumbang.

“Aslinya saya sudah gak pernah lewat jalan sini, terakhir dua bulan yang lalu. Males, kasihan motornya,” katanya. (CR-2)

Pos terkait