Miris! Perajin Tahu dan Tempe di Kebumen, Sangat Bergantung Kedelai Impor

  • Whatsapp
Ilustrasi seorang perajin tahu sedang memotong hasil produksinya sebelum dipasarkan. Hestek/Dedy

KEBUMEN, hestek.id-Karena bisa diolah menjadi berbagai macam sajian, tahu jadi makanan yang punya banyak penggemar. Tetapi siapa sangka, bahan baku pokok produksinya masih mengandalkan kedelai impor dari Amerika.

Di sentra pembuatan tahu di Kelurahan Bumirejo RT 03/01, Kecamatan Kebumen contohnya, mayoritas pelaku usaha pembuatan masih mengandalkan kedelai impor untuk mencukupi permintaan pasar.

Bacaan Lainnya

“Di sini ada 9 juragan, semua pakai kedelai dari Amerika,” kata Salamah, pengusaha tahu yang ditemui hestek.id, Kamis (7/1/2020).

Ia mengakui, usaha yang dirintisnya sejak tahun 1980 itu masih bertahan karena pasokan kedelai impor. Kata dia, kedelai lokal kurang bagus untuk dibikin tahu.

“Kedelai lokal tidak bagus, bahkan dicampur pun hasilnya juga jelek. Kedelai luar itu, bijinya besar-besar dan hasilnya juga bagus,” ujarnya.

Di lain tempat, pelaku usaha tempe di Desa Bandung, Kecamatan Kebumen, mengungkapkan hal serupa. Mufid Basori, pengusaha tempe di sana juga mengandalkan kedelai impor. Setiap hari, sedikitnya 1 kuintal kedelai di olahnya menjadi tempe.

“Kedelai lokal dari petani, kurang mekar kalau dibuat tempe,” katanya.

Mufid berharap, petani kedelai lokal bisa meningkatkan kualitas dan volume hasil panen untuk memenuhi kebubutuhan pasar. Karena harga kedelai impor, melambung tinggi sejak Desember lalu.

“Sebetulnya sangat disayangkan, kedelai saja harus impor. Tapi mau bagaimana lagi,” ujarnya. (Hafied)

Pos terkait