Pembinaan Tinju Banyumas Tetap Berlangsung Saat Pandemi

  • Whatsapp
Sasana Kelir Jati Boxing Camp

BANYUMAS, hestek.id-Untuk menjaga dan mempertahankan prestasi olaharaga tinju Banyumas, beragam cara dan upaya dilakukan para pegiatnya.

Seperti yang dilakukan Udin, Kuspondo dan beberapa rekannya yang sempat mengukir prestasi tinju di era 80-90an ini misalnya. Bermodalkan kecintaannya, Udin dkk nekat mendirikan sarana berlatih tinju, Sasana Kelir Jati Boxing Camp Purwokerto.

Bacaan Lainnya

Sebagai pensiunan petinju profesional di era 90-an, Udin merasa punya tanggung jawab untuk melahirkan petinju-petinju andalan Banyumas di masa depan.

Penggagas Sasana Kelir Jati ini, menceritakan awal mula perjuangannya bersama rekan-rekannya mendirikan sebuah Boxing Camp.

“Sasana ini kita dirikan dengan modal seadanya, kita berharap bisa menjaga regenerasi petinju-petinju Banyumas di masa depan,” ujar Udin.

Berkat keseriusan dan dedikasi mereka pada olahraga tinju, peserta didik di sasana yang ada di Bantarsoka Purwokerto ini sudah ada yang berhasil mencatatkan beberapa prestasi.

“Kita bersyukur, anak didik di Sasana Kelir Jati Boxing Camp ini sudah ada yang berprestasi di banyak kejuaraan tingkat regional sampai nasional,” kata Udin.

Kuspondo yang sekarang menjadi pelatih aktif di sasana mengatakan, petinju di Sasana Kelir Jati cukup banyak yang berhasil meraih mendali perunggu hingga emas.

“Sekarang kita punya 20 peserta didik aktif dan berprestasi,” ujar Kuspondo.

Selama ini, sasana tersebut berjalan mengandalkan iuran mandiri dari peserta didiknya. Meski secara jumlah masih jauh dari kecekupan, tetapi hal tersebut justru membuat para peserta didik punya semangat dan kemandirian.

“Sasana ini berjalan mandiri dari peserta didik. Dari uang hasil patungan tiap bulan, para petinju di sini tetap semangat membeli peralatan sendiri,” ujarnya.

Kata Kuspondo, untuk menjadi peserta didik di sasana yang dikelolanya tidak mahal. Peserta didik cukup membayar registrasi Rp 20 ribu dan membayar uang iuran tiap latihan dua ribu rupiah.

“Uang itu digunakan untuk keperluan latihan,” katanya.

Minim Kompetisi
Diakui Kuspondo, olahraga tinju saat ini mulai kalah pamor dan terbilang kurang eksis. Jarangnya kompetisi dan semakin banyaknya pilihan olahraga pilihan, membuat banyak petinju yang jadi jarang bertarung.

“Kompetisi tinju sekarang sudah sangat jarang diadakan. Sasana Kelir Jati saja, terakhir berhasil membawa mendali akhir Desember 2018 lalu. Apalagi sekarang ada pandemi Covid-19, kejuaran tingkat regional maupun nasional tidak ada sama sekali,” kata Kuspondo.

Untuk memperbanyak jam terbang dan mengasah mental bertarung para petinjunya, berbagai upaya dilakukan. Bahkan kata dia, anak-anak didik di sasana sempat mengikuti turnamen Tarung Bebas Indonesia (TBI) yang diadakan di Purbalingga akhir Desember 2018 lalu.

Pada turnamen naional tersebut, Sasana Jati Kelir mengirimkan 5 atletnya dan berhasil membawa pulang 2 keping emas, dan 3 perak untuk kelas 45 kg, 48 kg, 52 kg, 65 kg dan 70 kg.

“Kita berharap tahun mendatang lebih banyak kejuaraan tinju, supaya olahraga ini tetap eksis dan beregenerasi,” katanya. (CR-1)

Pos terkait