Pemerintah Minta Spanduk Doa Masuk Pasar di Sokaraja Diturunkan, Salahnya Dimana?

  • Whatsapp

BANYUMAS, hestek.id- Keberadaan spanduk bertuliskan doa masuk pasar di Blok E, Pasar Sokaraja, Banyumas menuai pro dan kontra.

Di satu sisi, paguyuban pedagang pasar menganggap spanduk tersebut merupakan hal yang positif karena mengandung kampanye keagamaan.

Bacaan Lainnya

Namun ada pula pihak yang memprotes keberadaan spanduk. Mereka berdalih jika pasar merupakan fasilitas umum, bukan milik satu agama saja.

Polemik ini semakin mengerucut ketika Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Dinperindag) Kabupaten Banyumas memberikan instruksi untuk mencopot spanduk yang telah terpasang satu tahun terakhir.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pasar Wilayah Banyumaas Timur, Abdul Wachid mengatakan, perintah penurunan spanduk datang setelah ada komplain ke pemerintah kabupaten (pemkab).

“Itu kan ceritanya ada yang komplain, terus menugaskan ke kepala dinas (dinperindag, red), kemudian diteruskan ke sini,” kata Wachid saat ditemui Hestek.id, Rabu (13/1/2021).

Setelah mendapat perintah, Wachid pun menghubungi Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Sokaraja. Dia memberitahukan kepada paguyuban untuk secara sukarela menurunkan spanduk tersebut.

“Saya sudah menghubungi pihak paguyuban, cuma belum hari ini lah dituruninnya,” ujarnya.

Meski demikian, dia secara pribadi menilai jika spanduk bertuliskan doa masuk pasar tersebut tidak bermasalah. Sebaliknya, Wachid justru menilai pedagang memajang spanduk dengan tujuan baik.

“Menurut saya Ini sesuatu yang pesanya baik. Kami kan kalau masuk kamar mandi berdoa, keluar kamar mandi berdoa, mau makan juga berdoa. Harusnya si tidak perlu dipermasalahkan,” katanya.

Bukan agenda politik

Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Sokaraja Triyani secara tegas menolak penurunan spanduk doa masuk pasar. Menurut dia, permintaan mendadak Pemerintah Kabupaten Banyumas itu dianggap tidak masuk akal dan tanpa alasan yang jelas.

“Mayoritas pedagang disini menolak penurunan mas, ini kan sudah setahun disini, kenapa baru sekarang dipermasalahkan,” katanya.

Triyani mengungkapkan, pemasangan spanduk tersebut sudah disepakati mayoritas pedagang. Dia menepis segala anggapan bila spanduk di Blok E dipasang untuk agenda politis.

“Pemasangan banner doa kan tujuanya baik. Mayoritas pedagang dan pembeli disini kan Islam, jadi harusnya tidak ada masalah dengan spanduk doa tersebut,” terangnya.

Triyani menduga, usulan pencopotan spanduk di Pasar Sokaraja merupakan keinginan segelintir orang saja. Dia memastikan jika keberadaan spanduk doa tidak akan berpengaruh terhadap volume transaksi di Pasar Sokaraja.

“Ini kan yang mempermasalahkan ga tau seberapa, kalau memang banyak yang mengeluhkan sampai ada demo lha baru bermasalah,” imbuhnya.

Senada dengan Pembina Paguyuban Pedagang Pasar Sokaraja, Endar Susanto. Dia berpendapat, alasan permintaan penurunan spanduk belum jelas penyebabnya.

“Alasan konkrit dari pemkab gatau apa itu. Jadi itu sesuatu yang lucu,” ujarnya ketika diwawancarai, Rabu (13/1/2021).

Dia menegaskan, pihaknya dari paguyuban tidak akan menurunkan spanduk tersebut.

Ndak akan dicopot itu, saya tidak mau. Itu kan pesanya baik. Di bawah kan juga ada tulisan ‘Pasare resik, Rejekine Apik‘, kan bagus itu,” katanya.

Dia menambahkan, wacana pemasangan spanduk doa tersebut sudah ada sejak lama namun baru direalisasikan tahun lalu.

“Terobosan ini berdasarkan kesepakatan bersama paguyuban setelah melakukan studi banding di Pasar Parakan bersama Disperindag juga,” pungkasnya. (CR-2)

Pos terkait