JAKARTA, HESTEK.id – Di tengah perkembangan Teknologi Informasi yang begitu pesat ditandai dengan semakin banyaknya penggunaan internet dan berbagai teknologi, membuat pola interaksi dan komunikasi mengalami perubahan menjadi interaksi dan komunikasi digital, mulai dari berdiskusi, mencari informasi, bersosialisasi, belajar, bahkan berbisnis yang tidak terbatas jarak dan waktu.

Siap atau tidak, kita telah memasuki ekosistem baru yang dinamakan ekosistem digital, dimana semua hal yang ada didalamnya begitu kompleks, jauh melebihi dunia nyata. Setiap orang tanpa kesadaran penuh digiring pada dua sisi kemanfaatan dan resiko nya sama-sama besar, ekosistem yang kadang membuat banyak orang terlihat menjadi dua sosok pribadi yang berbeda, bisa saja didunia nyata dia begitu kalem, tapi betapa beringasnya di media sosial, atupun sebaliknya, begitu keras dan gagahnya mencaci maki orang lain, para tokoh, aparat, bahkan presiden sekalipun, namun begitu lemah, lusu dan tak berdaya saat ditangkap oleh Polisi, alasan psikologis bisa jadi salah satunya, karena social interface atau berjumpa langsung berbeda dengan berjumpa secara digital atau digital interface.

Dalam era digital ini, berbagai kebermungkinan bisa terjadi, anak muda atau kaum millenial bisa tiba-tiba jadi kaya raya, punya perusahaan dengan valuasi begitu tinggi, dan jejaring global yang begitu luas. Namun disisi yang lain banyak pula yang memanfaatkan digital untuk hal-hal tidak layak bahkan kejahatan. Tidak sedikit dari kita yang familiar bahkan menjadi korban dari salah satu kejahatan dari ekosistem digital ini ; berita bohong (HOAX), penipuan, pelecehan, SARA, cyber bullying, pencurian data, terorisme, pornografi dan lain sebaginya.

Saat memasuki dunia digital, kita seolah berjalan di sebuah hutan tanpa pemandu dan arahan dengan berbagai kemungkinan bisa terjadi ; manfaat, resiko, dan regulasi bisa kita lihat langsung dilapangan. Ada orang yang bijak dan bertanggung jawab saat dihadapkan pada hal-hal yang terjadi dilapangan, namun tidak sedikit yang panas, emosi, dan penuh dengan aura kebencian. Ini menjadi tantangan tersendiri kedepan, karena kondisinya pun kedepan akan semakin kompleks, kebanyakan dari kita sekarang masih sadar pada tahap jejaring informasi (internet of information), namun disadari atau tidak kita sudah memasuki era jejaring benda (internet of things) bahkan jejaring nilai ekonomi (internet of value) dengan manfaat, tantangan dan resiko yang jauh lebih besar.

Berkaitan dengan isu dan masalah yang muncul di era digital ini, ada sebuah istilah baru yang menarik untuk dibahas yaitu Digital Citizenship yang secara harfiah bisa diartikan sebagai warga digital, lebih luas dari itu sebenernya Digital Citizenship adalah sebuah pedoman bagaimana berperilaku, bertanggung jawab dan beretika saat seseorang menggunakan teknologi. Dibeberapa Negara Eropa dan Amerika, Digital Citizenship ini mulai menjadi hal yang di perbincangkan sebagai isu penting di era digital, bahkan disusun menjadi sebuah kurikulum yang diajarkan kepada anak-anak disekolahan.

Mike Ribble adalah seorang yang mengenalkan konsep pendidikan Digital Citizenship yang kemudian dikembangkan oleh Microsoft dengan tiga konsep dasar, yaitu Respect, Educate, dan Protect (REP). Respect berarti menghargai diri sendiri dan orang lain mencakup etika, akses, dan hukum digital, Educate yaitu mengedukasi diri sendiri dan terhubung dengan orang lain mencakup komunikasi serta pendidikan secara formal dan normal, Protect yaitu melindungi diri sendiri dan orang lain dalam hal keselamatan, hak dan tanggung jawab, kesehatan serta kesejahteraan.

Tiga konsep diatas dalam pelaksanaanya haruslah diimplementasikan pada setiap orang saat dia menggunakan teknologi, disamping itu, setiap orang punya tanggung jawab untuk melakukan hal yang sama kepada orang lain.

Nilai-nilai Good Digital Citizenship ini jika tidak dilakukan, akan mempunyai dampak dan efek multiplikasi yang lebih besar, dengan teknologi, berbagai kejahatan bisa lebih masif dampaknya.

Di Negara maju pendidikan Digital Citizenship ini sudah diajarkan kepada anak-anak dari sejak di sekolah dasar dan menengah, ini merupakan satu hal yang menarik dan bisa jadi inspirasi bagi Indonesia yang jelas punya banyak sejarah dan peristiwa tidak baik berkaitan dengan ketidakpantasan penggunaan teknologi khususnya sosial media yang paling banyak mejadi isu beberapa waktu terakhir ini, ditambah dengan kejahatan-kejahatan cyber lainya yang hampir setiap hari kita dengar.

Adanya kebijakan dan inisiatif untuk mendukung dan melaksanakan pendidikan yang sistematis mengenai Digital Citizenship ini merupakan hal yang penting dan mendesak. Selain itu, pendekatan yang dilakukan seharusnya dialihakan menggunakan konotasi positif , yang biasanya menggunakan kalimat “You shouldn’t do that” menjadi sebuah kesadaran penuh untuk memberdayakan teknologi yang sehari hari kita gunakan (sense of empowerment around technology).

Perlu kita ingat, dengan fakta bahwa persolan di Indonesia tekait ini cukup besar, maka pendidikan Digital Citizenship ini bukan hanya penting untuk pendidikan dasar dan menengah bagi anak-anak saja yang memang sering dan rentan untuk menjadi korban, namun juga penting dan mendesak bagi kalangan masyarakat dewasa pada umumnya sebagai baigan dari pendidikan karakter. Budaya saling menghargai dan memperlakukan orang lain dengan perlakuan yang juga ingin kita dapat dari orang lain merupakan konsep dasar yang harus melekat bagi setiap orang, khususnya dalam penggunaan Teknologi Informasi (TI) dalam konteks menjadi Good Digital Citizenship.