PPKM di Banyumas, Angkringan Menjerit, Kafe Mengiba

  • Whatsapp

BANYUMAS, hestek.id- Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) membuat pedagang angkringan di wilayah Banyumas menjerit.

Mereka cemas omset usaha semakin menurun selama dua pekan masa PPKM pada 11 hingga 25 Januari 2021.

Bacaan Lainnya

Bayu, pedagang angkringan di Rodamas, Kecamatan Purwokerto Timur mengungkapkan, usahanya mengalami penurunan omset hingga 50 persen sejak awal pandemi virus corona (Covid-19).

“Sebelum corona Rp 300-400 ribu, habis corona turun jadi Rp 150-200 ribu. Kalo sepi gini jadi nggak enak sama bosnya, sehari gaji tujuh orang,” ujarnya kepada hestek.id, Sabtu (9/1/2021).

Sesuai aturan, selama PPKM, pedagang hanya boleh melayani pelanggan makan di tempat sebanyak 25 persen total kapasitas. Hal ini tentu membuat Bayu semakin bingung.

“Kalo makan sekarpet jangan lebih dari dua sampai tiga orang. Antar karpet sama karpet jaraknya satu meter, dadine ribet,” jelasnya.

Meskipun hanya diperbolehkan melayani pelanggan sampai pukul 21.00, namun Bayu tidak punya pilihan lain kecuali tetap membuka lapaknya.

“Iya tetep bukak, ora bukak malah ora jajan. Semua karpet ada delapan yang dipakai dua atau tiga karpet aja,” ujarnya.

Mana bantuan pemerintah?

Hal senada juga diungkapkkan oleh Rahmat, pemilik Baronk Kopi dan Mirip Cafe, Kebarongan, Kecamatan Kemranjen. Tergambar jelas di depan mata bagaimana sepinya usaha kafe yang dia kelola selama PPKM diperketat esok.

“Pusing, kafe ramainya itu malem, kalau siang atau sore cuma beberapa doang, pendapatan terbesar kita di malam hari. Dengan adanya pembatasan ya jelas berdampak pada pengurangan penghasilan,” katanya.

Dia berharap ada jalan keluar dari pemerintah untuk para pelaku usaha yang terdampak jam malam.

“Ya intinya gini, pemerintah berani berbuat ya berani tanggung konsekuensi terkait PSBB, ya paling nggak mereka harus beri jalan keluar bagi warga yang terdampak, paling engga ya kasih bantuan,” pungkasnya. (CR-1)

Pos terkait