Soal Vaksin Covid-19, Nakes Aja Khawatir, Apa Kabar Masyarakat Umum?

  • Whatsapp
Ilustrasi tenaga kesehatan penerima Vaksin Sinovac tahap pertama.

BANYUMAS, hestek.id- Rencana pemerintah soal vaksinasi anti Covid-19 memicu pro kontra di kalangan tenaga kesehatan (nakes) di Kabupaten Banyumas. Nakes yang sedianya menjadi kelinci percobaan Vaksin Sinovac faktanya merasa ketar-ketir akan efektifitas dan Kejadian Ikutan Pasca Imuniasasi (KIPI).

Salah satu perawat RS Wiradadi Husada, Sokaraja berinsial SP menilai pemerintah terburu-buru dalam melakukan distribusi vaksin impor ini ke seluruh Indonesia.

Bacaan Lainnya

Lha wong izine urung ana, tapi wis tuku akeh banget terus wis dibagekna”, katanya saat ditemui hestek.id, Kamis (07/01/2021).

Jika boleh memilih, SP akan mengambil keputusan untuk tidak divaksin pada kloter pertama. Dia khawatir akan efek samping dari Vaksin Sinovac.

SP sendiri selalu mengikuti informasi di media massa terkait vaksin impor ini. Sepengetahuannya, meski sudah didistribusikan ke seluruh daerah, namun hingga saat ini Vaksin Sinovac belum mengantongi izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Nek olih milih ora divaksin ya mending ora disit. Nek mengko putaran keloro apa ketelu gratis, tur wis keton hasile lha tembe wani”, ujarnya.

Kekhawatiran lain datang dari AF, salah satu perawat di RSUD Margono. Melalui pesan teks, AF mengaku belum mendapatkan sosialiasi apapun selain dari berita yang beredar di media massa ataupun grup whatsapp.

“Efeknya apa, sudah dilakukan penelitian sejauh mana, BPOM-nya belum ada, saya belum tahu,” terangnya.

Suara yang keluar dari kelompok nakes di Banyumas tak hanya soal kontra produktif. Banyak pula nakes yang menganggap Vaksin Sinovac sebagi angin segar.

Tenaga Kesehatan Puskesmas Jatilawang, Oktavian secara mantap siap untuk divaksin pada tahap pertama.

Dia percaya jika Vaksin Sinovac dapat membuat dia kebal terhadap virus corona. Mengingat nakes merupakan garda terdepan penanggulangan wabah dengan resiko penularan yang sangat tinggi.

“Sudah dapat sms. Insyaallah siap mas, walaupan khawatir tapi insyaallah siap”, kata Oktafian.

ternyata gelombang kekhawatiran para nakes juga terjadi di Kabupaten Kebumen.

Salah seorang perawat yang bertugas di fasilitas kesehatan Kebumen, RN masih merasa takut saat mengetahui dirinya masuk dalam daftar penerima vaksni anti Covid-19 tahap pertama.

Ketakutannya dilatarbelakangi oleh minimnya informasi terkait jaminan keamanan dan efek samping yang ditimbulkan Vaksin Sinovac tersebut.

“Takut itu pasti, karena baru muncul penawar virus ini kan. Padahal pribadi saya belum tahu jaminan vaksin untuk jangka panjang seperti apa,” terangnya, saat diwawancara hestek.id, Jumat (8/1/2020).

Jelang pelaksanaan vaksinasi, RN dan beberapa rekan satu profesi semakin ragu. Bahkan, bila diperbolehkan untuk menolak, dia dengan senang hati akan mencoret namanya dari daftar penerima vaksin.

“Ada perasaan was-was. Dalam hati kecil itu berfikir tidak mau, karena uji cobanya seperti apa kita kan tidak tahu persis,” tuturnya.

Meski begitu, RN tidak bisa berbuat lebih. Organiasi profesi yang seharusnya mewadahi aspirasi para nakes justru tutup telinga.

“Mau tidak mau, karena sudah terdaftar,” imbuhnya. (CR-2/Hafied)

Infografis polemik vaksin untuk tenaga kesehatan.

Dinkes: Nakes Wajib Vaksin!

Kekhawatiran dari sejumlah nakes yang diungkapkan kepada hestek.id agaknya tak menjadi penggalih bagi Dinas Kesehatan (Dinkes) Banyumas.

Kepala lembaga tersebut, Sadiyanto tetap mewajibkan seluruh nakes untuk menjadi penerima pertama vaksin yang sampai saat ini belum memiliki izin edar dari BPOM tersebut.

“Wajib bagi nakes, kalau sudah ada keputusan dari atas ya pasti kita lakukan (secara menyeluruh, red), wong itu perintah,” katanya ketika dihubungi melalui sambungan telepon, Kamis (7/1/2021).

Sadiyanto tidak mau mengantisipasi kemungkinan terburuk jika pada saatnya vaksinasi harus dilakukan, muncul gelombang penolakan dari para nakes.

“Jangan mengandai-andai, kalau sudah terjadi kita punya cara untuk mengedukasi (para nakes, red),” ujar dia.

Sadiyanto meyakini tidak akan ada gelombang penolakan dari para nakes. Sebab, mereka adalah tenaga ahli dan pemerintah juga memiliki diktat panduan teknis yang menjadi pedoman vaksinasi.

Dari panduan tersebut, kata Sadiyanto, satu-satunya hal yang dapat menganulir kewajiban nakes menjadi obyek vaksin adalah hasil screening.

“Sudah ada panduannya, 500 halaman, nakes sudah pada paham,” ujarnya.

Sadiyanto menjelaskan, proses screening ada empat tahap. Meja satu adalah pendaftaran, kedua screening, ketiga pelaksanaan dan terakhir yakni meja evaluasi.

“Jadi yang punya riwayat penyakit tertentu atau tidak memenuhi syarat ya ditunda,” ujar dia.(CR-1)

Sosialisasi dan Misinformasi

Wakil Ketua Komisi D DPRD Banyumas, Andrias Kartikosari juga sempat angkat bicara soal vaksinasi ini. Menurutnya, kekhawatiran tenaga kesehatan muncul karena kurangnya sosialisasi. Pernyataan ini bertolak belakang dengan statement Kadinkes Banyumas, Sadiyanto.

“Keraguan dan mungkin rasa takut ini bisa bikin masyarakat menolak divaksin,” kata dia kepada hestek.id, Jumat (8/1/2021).

Soal sosialisasi, pernyataan Andrias mungkin bisa dibenarkan. Sebab, dirinya juga bisa dibilang masih masuk golongan yang misinformed. Hal ini terlihat saat wawancara dengan wartawan kemarin. Sebagai anggota komisi yang menaungi domain kesehatan, Andrias mengeluarkan sebuah pernyataan yang tergolong lucu dan berlawanan dengan fakta.

Sekretaris Fraksi PDIP ini meyakini Vaksin Sinovac aman untuk disuntikkan kepada tenaga kesehatan.

“Di Indonesia diuji juga oleh BPOM, jadi saya kira sudah aman,” ujarnya percaya diri.

Menurutnya, kemunculan suara dari nakes merupakan bukti jika pemerintah belum melakukan sosialisasi dengan efektif.

“Kalau ada nakes yang menolak, pada dasarnya itu adalah haknya, tetapi tentu harus dengan alasan yang kuat,” ujar dia.

Sosialisasi, kata dia, sangat fatal peranannya. Sebab jika tidak, maka akan ada misinformasi kepada seluruh warga Banyumas.

“Untuk itu, Pemerintah harus mensosialisasikan lebih kepada masyarakat, dan memberikan kepercayaan jika vaksin ini aman,” kata dia. (anas masruri)

Organisasi Profesi Nakes Manut Pemerintah

Ilustrasi tenaga kesehatan penerima Vaksin Sinovac tahap pertama.

Tiga organisasi profesi tenaga kesehatan (nakes) di Banyumas tidak akan mengakomodir nakes yang khawatir atau takut dengan program vaksinasi Covid-19.

Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Cabang Banyumas, Fajar Tri Asih dengan tegas mendukung program tersebut. Menurutnya, imunisasi nakes ini sudah melewati perhitungan dan analisis yang matang serta bertujuan untuk melindungi nakes.

Menurutnya, perawat adalah garda terdepan dalam upaya perang melawan virus corona. Perawat adalah nakes yang paling tinggi risikonya untuk tertular. Berbanding terbalik dengan profesi dokter yang hanya melakukan kunjungan pasien.

“Teman-teman kami sudah banyak yang sudah jatuh sakit. Kalau saya tidak bisa memaksa. Tapi ketika mereka terinfeksi itu mereka yang akan rasakan sendiri,” ujarnya kepada hestek.id, Kamis (7/1/2021).

Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Cabang Banyumas, Henny Soetikno juga mengeluarkan pernyataan senada. Menurutnya, sampai saat ini tidak ada satupun riak-riak yang muncul dari angota terkait penolakan Vaksin Sinovac.

“Mereka tidak ada yang komplain, tida ada yang menolak, tidak ada yang menulis surat, itu subjektif saja,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, vaksinasi ini bersifat wajib bagi semua nakes. Meski demikian, tidak ada konsekuensi atau aturan hukum disiplin jika keberatan divaksin.

Hal senada diungkapkan oleh Noegroho Harbani, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Banyumas. Noegroho mengatakan, vaksinasi Covid-19 merupakan hal yang krusial. Gerbong IDI tegak lurus untuk menyukseskan program tersebut.

“Kami punya hirarki, kebijakan yang secara struktural organisasi dari IDI pusat, IDI wilayah mengamankan kebijakan itu. Tapi selama ini kami secara formal, secara organisasi formal belum bisa memberikan tanggapan adanya gejolak atau tidak,” ujarnya.

Noegroho menjelaskan, program vaksinasi ini bersifat sapu bersih. Artinya, tidak akan ada perbedaan antara dokter PNS yang praktik di fasilitas kesehatan negeri maupun dokter non PNS yang praktik di rumah sakit swasta.

Untuk diketahui, hingga saat ini terdata sedikitnya ada 175 tenaga perawat yang terkonfirmasi positif Covid-19. Sementara dari kelompok dokter, ada 22 orang yang diketahui tertular. Dari jumlah tersebut, satu perawat meninggal dunia dari Puskesmas Wangon 1. (CR-1)

Pos terkait