Spanduk ‘Masuk Banjarnegara Tidak Perlu Pakai Pasport’ Disambut Gembira, Tapi Ejaannya Kok Salah?

  • Whatsapp
Petugas memasang spanduk bertuliskan 'Masuk Kota Banjarnegara Tidak Perlu Pakai Paspor' di gapura selamat datang, Minggu (7/2/2021). HESTEK.ID/Inung

BANJARNEGARA, hestek.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banjarnegara memasang tiga spanduk raksasa bertuliskan “Masuk Kota Banjarnegara Tidak Perlu Pakai Pasport”, Minggu (7/2/2021).

Spanduk-spanduk tersebut sontak jadi perhatian setiap pengguna jalan yang melintas karena terpampang di gapura selamat datang sepanjang Jalan Nasional Banjarnegara-Wonosobo.

Bacaan Lainnya

Bupati Banjarnegara, Budhi Sarwono menjelaskan, istilah ‘paspor’ dimaksudkan sebagai kata ganti untuk surat keterangan negatif tes cepat antigen yang banyak disyaratkan untuk masuk wilayah di daerah lain.

Berbeda dengan kabupaten tetangga, sejak awal Pemkab Banjarnegara memberikan kelonggaran terkait aturan penyekatan selama program ‘Jateng di Rumah Saja’, tanggal 6-7 Februari.

“Memang tidak tiap hari dan tiap saat, tapi mereka jadi was-was jika ingin bepergian. Nah, untuk pendatang yang masuk Banjarnegara, tidak ada rapid, swab atau antigen. Cukup cuci tangan dan pakai masker dengan benar,” kata pemilik akun Instagram @budhisarwono itu.

Bupati yang akrab disapa Wing Chin ini meyakini, masyarakat sudah cukup teredukasi terkait aturan protokol kesehatan (prokes).

“Masyarakat sudah sadar menjaga prokes. Sekarang yang diperlukan adalah memperbaiki ekonomi, yang penting masyarakat tercukupi kebutuhannya, dengan begitu imunitas meningkat, sehingga mereka bisa menjaga kesehatannya secara baik dan mandiri,” imbuhnya.

Petugas memasang spanduk bertuliskan ‘Masuk Kota Banjarnegara Tidak Perlu Pakai Paspor’ di gapura selamat datang, Minggu (7/2/2021). HESTEK.ID/Inung

Dari penelusuran hestek.id, umumnya masyarakat setuju dengan peniadaan pos jaga di perbatasan Kabupaten Banjarnegara.

Salah seorang pengendara yang memberikan apresiasi positif adalah Suhadi (53). Pedagang benih ikan asal Desa Rakit ini menganggap, kebijakan penyekatan akan sangat merepotkan bagi warga yang beraktivitas lintas daerah.

“Takut kena razia, nanti harus antigen, harus rapid, swab. Lah saya uang dari mana? Hidup sudah susah, kok malah ditambah kayak gitu,” katanya.

Setali tiga uang, Soenarko (51) warga Banyumas yang bekerja sebagai guru di Banjarnegara, turut gembira dengan kelonggaran tersebut.

“Kami sudah sangat menjaga protokol kesehatan, jadi kalau harus menghadapi pemeriksaan seperti itu, ya mending menghindar,” ungkapnya.

Paspor atau passport

Selain disambut gembira, ada juga warga yang jeli dan sempat-sempatnya mengoreksi kalimat yang tertulis dalam spanduk tersebut. Penulisan kata ‘pasport’, dinilai tidak benar baik dalam ejaan Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris.

Dalam Aplikasi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi V, kata yang tepat seharusnya ditulis ‘paspor’. Jika ingin menggunakan Bahasa Inggris, dalam aplikasi google translate, ejaan yang tepat seharurnya ditulis ‘passport’. (Inung/Iqbal Fahmi)

Pos terkait