JAKARTA, HESTEK.ID – Selama ini milenial diindentikkan dengan generasi yang tidak mementingkan kebutuhan mendapatkan perumahan.

Mereka lebih mementingkan kebutuhan liburan dibandingkan kebutuhan perumahan. Hal ini disebabkan mahalnya harga rumah.

Dalam survey yang dilakukan Rumah123 pada 2017 lalu disebutkan jika dalam 3 tahun mendatang atau 2020, hanya 5% kaum milenial (kelahiran antara 1982 – 1995) yang sanggup membeli rumah. Sisanya 95% tak memiliki tempat tinggal.

Dalam penelitian Rumah123, hal ini disebabkan oleh kenaikan harga rumah sebesar 17% jauh lebih besar dibanding kenaikan pendapatan pertahunnya.

Janji Jokowi Rumah Untuk Milenial

Dalam pemaparan visi lima tahun Presiden yang disiarkan oleh SCTV, Minggu (13/1), Presiden Jokowi menjanjikan fasilitas keuangan untuk perumahan agar generasi milenial dapat memiliki rumah sendiri. Dia mengklaim, telah membangun jutaan unit rumah sejak 2015 lalu.

“Pembangunan perumahan, kurang lebih 13 juta rumah, terutama untuk anak-anak muda, milenial banyak yang belum memiliki rumah, makanya 2015 kita bangun 700 ribu rumah, lalu 2016 sebanyak 700 ribu rumah, 2017 sebanyak 800 ribu rumah, 2018 sejumlah 1 juta rumah yang sudah kita selesaikan,” kata Jokowi dalam acara tersebut.

Membidik Pasar Milenial

Sementara itu, rupanya pengembang tetap menaruh harapan besar bagi pasar milenial.

“Berdasarkan survei rumah.com justru yang paling banyak mencari rumah itu sekarang usia milenial. Hitungannya itu sekitar 63% dalam keadaan ingin mencari rumah dalam enam bulan ke depan,” ungkap Country Manager Rumah.com Marine Novita seperti dilansir Koran Sindo.

Menurutnya, sebenarnya milenial memiliki uang untuk membeli rumah, tapi memang memiliki hunian sendiri masih belum menjadi prioritas bagi mereka. Mereka cenderung lebih suka traveling, fashion, kuliner, dan coffee shop yang instragamable.

Karena itu perlu pendekatan “milenial” untuk menarik mereka membeli hunian. Pendekatan tersebut diantaranya, edukasi dan pendekatan digital.