Tak Terima Dimakamkan dengan Protokol Covid-19, Keluarga Pasien Gugat RS Rp 5,3 M

  • Whatsapp
Photo by cottonbro from Pexels

PURWOKERTO, hestek.id-Tidak terima almarhum suaminya dimakamkan dengan protokol kesehatan karena dinyatakan meninggal akibat Covid-19, Ayong Karsiwen, warga Purwokerto Selatan, menggugat RS Dadi Keluarga Purwokerto ke Pengadilan Negeri (PN) Purwokerto.

Seorang warga bernama Hanta Novianto, meninggal dan dimakamkan pada 28 April 2020 silam setelah sebelumnya sempat dirawat selama dua hari di RS Dadi Keluarga Purwokerto karena penyakit paru-paru.

Bacaan Lainnya

Pihak keluarga tidak terima dan menggugat pihak RS senilai Rp 5 miliar ke pengadilan, setelah mengetahui Hanta ternyata negatif virus Corona.


Cari Informasi Viral Di Kolom Pencarian

Dikonfirmasi terkait gugatan tersebut, Kuasa hukum RS Dadi Keluarga Purwokerto, Doddy Prijo Sembodo mengatakan, apa yang dilakukan pihak rumah sakit sudah sesuai prosedur medis karena pasien berstatus PDP bergejala berat.

Sehingga tindakan yang dilakukan pihak rumah sakit pada pasien, harus sesuai Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease.

“Setelah dilakukan pemeriksaan medis secara menyeluruh, kesimpulannya pasien berstatus PDP gejala berat. Sehingga tindakan medis pemulasaran jenazah pasien PDP, harus sesuai dengan Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (Covid-19),” kata Doddy, Rabu (30/12/2020).

Terkait gugatan yang disampaikan pihak keluarga pasien tersebut, dinilainya tidak tepat. Karena pihak rumah sakit sudah melakukan penanganan, sesuai prosedur pelayanan dan protokol kesehatan saat pandemi.

Doddy memastikan, pihak rumah sakit siap menghadapi langkah hukum yang diajukan keluarga pasein.

“Kami siap menghadapi dan menghormati langkah hukum yang diajukan keluarga pasien, karena sudah masuk ranah hukum. Dalam persidangan nanti, akan kami jelaskan agar masyarakat bisa mengerti dan memahami peristiwa hukum tersebut. Sehingga tidak ada penyesatan hukum saat kita bersama berjuang menghadapi pandemi,” ujarnya.

Dikutip dari Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP), gugatan tersebut sudah terdaftar di Pengadilan Negeri (PN) Purwokerto dengan nomor 86/Pdt.G/2020/PN.Pwt. Sang istri pasien bernama Ayong Karsiwen, duduk sebagai penggugat.

Penggugat meminta majelis hakim, mengabulkan gugatan penggugat untuk seluruhnya dan menyatakan tergugat melakukan perbuatan melawan hukum.

Kemudian memerintahkan tergugat untuk membayar kerugian materiil sebesar Rp 335 juta dan membayar kerugian imateriil senilai Rp 5 miliar atau total senilai Rp 5.335.000.000.

Sesuai jadwal yang tercantum di laman tersebut, sidang perdana diagendakan 20 Januari 2021 mendatang.

Kuasa hukum penggugat, Dwi Amilono menyampaikan, pasien meninggal dunia pada 28 April 2020 setelah sebelumnya sempat dirawat sejak tanggal 26 April 2020 karena penyakit paru-paru.

“Meninggal tanggal 28 April, masuk rumah sakit 26 April. Setelah meninggal, dimakamkan dengan protokol Covid-19, saat hasil swab belum keluar,” kata Dwi.

Menurut pengakuan, pihak keluarga baru mengetahui hasil swab yang menyatakan negatif baru pada 15 Oktober 2020 lalu.

“Hasil swab baru didapatkan setelah pihak keluarga memaksa,” ujarnya. (enq)

Pos terkait