Tangkap dan Adili ‘Bunda Melon’, Aktor Intelektual di Balik Kasus Bansos ‘Melon’

  • Whatsapp
Kombatan menggelar aksi di pelataran parkir Kejari Purwokerto, Selasa (23/03/2021). HESTEK.ID/anas masruri

PURWOKERTO, hestek.id – Kasus dugaan penyalahgunaan dana bantuan Covid-19 dari Ditjen Bina Penta Kemenaker RI yang tengah diproses Kejaksaan Negeri Purwokerto makin menyedot perhatian publik.

Terakhir, sejumlah elemen masyarakat yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Banyumas Tegakkan Keadilan (KOMBATAN) menggelar aksi dan mendesak Kejaksaan Negeri (Kejari) Purwokerto untuk secepatnya mengungkap aktor intelektual di balik kasus tersebut.

Bacaan Lainnya

Meski tidak diungkapkan secara lugas, Kombatan secara tersirat memberikan sedikit indikasi terkait siapa yang mereka curigai sebagai aktor intelektual. Misalnya dengan menyebut orang yang mereka curigai dengan sebutan ‘Bunda Melon’.

Mereka juga kompak mengenakan daster saat berunjukrasa di pelataran parkir kantor Kejari Purwokerto, Selasa (23/03/2021). Mereka juga membawa poster bergambar perempuan yang mengenakan jilbab.

“Kita ingin memperjelas aktor intelektual, siapa dalang di balik kasus ini. Kejari jangan ragu dan canggung dalam menangani kasus karena banyak dukungan dari masyarakat,” kata Koordinaor Kombatan, Taufik Hidayat.

Meski tidak menyebut nama, koalisi masyarakat menduga kuat ada aktor intelektual yang mereka beri julukan ‘Bunda Melon’.

“Bunda melon adalah orang yang berpengaruh di Banyumas, dan dia punya jabatan dan tentunya punya akses ke kementerian yang memberikan fasilitas dan memfasilitasi turunnya bantuan sebesar 2,1 miliar,” katanya.

Taufik menambahkan, peserta aksi mengenakan daster sebagai adalah bentuk representasi dari ketua kelompok penerima bansos. Mayoritas dari 48 kelompok adalah kaum perempuan yang dijanjikan mendapat bantuan senilai Rp 40 juta.

“Banyak kelompok yang bertanya-tanya karena uangnya belum sampai tetapi sudah diminta kembali. Bukan atas dasar keikhlasan tetapi ada permintaan dalam bentuk MoU,” katanya.

Sebelumnya, AM (26) dan MT (37) ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan penyalahgunaan dana bantuan Covid-19 dari Ditjen Bina Penta Kemenaker RI senilai Rp 2,1 miliar.

Dana yang seharusnya digunakan untuk kepentingan 48 kelompok tani itu, diduga digunakan untuk membangun green house untuk budidaya melon di Desa Sokawera, Kecamatan Cilongok.(anas masruri)

Pos terkait