Terbongkar, 5 Tahun Napi di Lapas Purwokerto Kendalikan Bisnis Narkoba dari Dalam Penjara

  • Whatsapp
Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah, Brigjend Pol Benny Gunawan saat press release di Purwokerto, Kamis (18/2/2021). HESTEK/Gilang Grahita

BANYUMAS, hestek.id – Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah dan Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Banyumas Berhasil membongkar bisnis narkoba jenis sabu yang dikendalikan oleh narapidana dari dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas ll A Purwokerto.

Kepala BNNP Jateng, Brigjend Pol Benny Gunawan mengatakan, perlaku bernama Budiman (43), warga Desa Kutasari, Kecamatan Baturraden. Dalam menjalankan bisnisnya, pelaku menggunakan smartphone untuk berkomunikasi saat transaksi obat terlarang dari berbagai daerah.

Bacaan Lainnya

“Ternyata sejak tahun 2016. Sewaktu di penjara, tersangka ini tetap menjalankan bisnis narkotika sampai sekarang,” katanya.

Benny menjelaskan, bisnis gelap Budiman akhirnya terungkap pada 31 Januari 2021. Saat itu, petugas BNN mendapati transaksi mencurigakan dari rekening keluarga pelaku.

”Modus yang digunakan oleh Budiman dengan cara menerima setoran pembayaran dari pembelinya melalui rekening istrinya dan rekening adiknya, Kholidin yang juga napi kasus narkotika,” terangnya.

Budiman alias Bledeg merupakan residivis narkoba sebanyak tiga kali. Pada tahun 2004, ia divonis hukuman 2 tahun 8 bulan penjara. Kemudian pada tahun 2013 ditangkap di Polres Purbalingga divonis 5 tahun penjara. Tahun 2019 ditangkap BNNK Banyumas serta dijatuhi hukuman penjara 8 tahun 4 bulan.

“Setelah menyelidiki lebih dalam, ternyata Budiman merupakan bandar narkoba jenis sabu. Ia mengambil barang dari berbagai tempat,” katanya.

Atas perbuatannya tersangka dijerat dengan Pasal 3 subsider Pasal 4 lebih subsider Pasal 5 ayat (1) UU RI Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang dan Pasal 137 huruf (a) dan (b) UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika dengan ancaman Pindana paling lama 20 tahun dan denda paling banyak Rp 10 miliar. (CR2)

Pos terkait