Teror Berlanjut, Diduga Masih Ada 3 Ekor Buaya di Segara Anakan Nusakambangan

  • Whatsapp
Kepala Satpolair Polres Cilacap AKP Huda Syafi'i mengevakuasi buaya muara yang ditemukan mati di Segara Anakan Cilacap, Jawa Tengah, Minggu (4/8/2019).

CILACAP, hestek.id- Dalam kurun waktu dua tahun, sedikitnya dua buaya muara (crocodylus porosus) tertangkap di perairan Segara Anakan dan Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. keberadaan kawanan predator air tersebut dianggap meresahkan karena sering muncul dekat dengan perkampungan.

Kordinator Masyarakat Mitra Polisi Kehutanan (MMP) Pandu Nusa Buana, Nusakambangan Timur, Tarmuji mengatakan, pada Kamis (24/12/2020), seekor buaya terjerat jaring nelayan bernama Katman Tampol, warga Desa Grugu, Kecamatan Kawunganten di perairan sekitar daerah Ujung Gagak.

Bacaan Lainnya

Karena tidak bisa lepas dari jaring, buaya tersebut akhirnya terpaksa ditangkap warga. Buaya sepanjang 2,55 meter itu diikat dan dibiarkan berada di darat selama enam jam.

“Hasil pemeriksaan dokter, buaya tersebut diketahui sudah mati karena lemas dan ada luka di bagian kepala,” katanya

Sebelumnya, seekor buaya raksasa sepanjang 3 meter juga pernah ditemukan mati terjebak jaring apung nelayan pada Agustus 2019 lalu. Pemilik jaring, Daryanto, warga RT 2 RW 6, Kelurahan Kutawaru, Kecamatan Cilacap Tengah mendapati satwa dilindungi ini pada pukul 05.00 WIB.

“Kemungkinan besar ini buaya yang sudah meneror warga sejak dua tahun terakhir,” ujarnya.

Kordinator Masyarakat Mitra Polisi Kehutanan (MPP) Pandu Nusa Buana, Nusakambangan Timur, Tarmuji memeriksa kondisi buaya muara (crocodylus porosus) tertangkap warga di Laguna Segara Anakan, Cilacap, Kamis (24/12/2020).

Tarmuji mengungkapkan, sejak dua tahun terakhir dirinya memang sering menerima laporan kemunculan buaya di perairan Segara Anakan.

Warga merasa resah karena kawanan buaya ini sering terlihat dekat dengan perkampungan. Bahkan di beberapa laporan, kasus buaya memangsa hewan ternak juga sering diterima oleh Tarmuji.

“Pernah kami coba pancing pakai bebek, tapi tidak muncul. Karena Segara Anakan ini kan luas, radius jelajah buaya muara juga luas,” terangnya.

Dari hasil laporan dan pengamatan lapangan, Tarmuji menduga masih ada sedikitnya tiga ekor buaya yang tersisa di sekitar laguna.

Menurut Tarmuji, kawanan buaya ini mampu bertahan cukup lama di kawasan Segara Anakan karena ekosistem yang masih terjaga.

“Ini buaya liar, bukan lepasan dari penangkaran yang tidak sengaja lepas,” katanya.

Dengan kemunculan buaya ini, Tarmuji dan tim akan semakin menggencarkan patroli. Pasalnya, kemungkinan konflik dapat terjadi karena sebagian besar warga Cilacap bermata pencaharian sebagai nelayan.

“Ya banyak warga mengeluh takut buat cari ikan, bahkan buat cari kerang di sungai yang surut juga mereka takut sekarang,” ujarnya. (iqbal fahmi)

Pos terkait