Dijadikan Tersangka Karena Menemukan Gumpalan Daging di Hutan, Warga Rembang Ajukan Praperadilan

  • Whatsapp
Suasana sidang gugatan praperadilan kasus tersebut, Senin (29/3/2021) lalu. HESTEK/Gilang

PURBALINGGA, hestek.id – Rinah Supriyono (49) warga Desa Bodas Karangjati, Kecamatan Rembang yang mengaku menemukan seonggok daging di hutan dekat rumahnya, ditetapkan sebagai tersangka aborsi oleh Unit PPA Satreskrim Polres Purbalingga.

Tak terima dengan penetapannya sebagai tersangka, pihak keluarganya melalui kuasa hukumnya, Ananto Widagdo, mempraperadillankan Kapolres Purbalingga AKBP Fannky Ani Sugiharto ke PN Purbalingga. Sidang gugatan praperadilan kasus tersebut, digelar perdana, Senin (29/3/2021) lalu.

Bacaan Lainnya

Kasus ini bermula saat Rinah menemukan segumpal daging sebesar koin, di hutan tak jauh dari rumahnya, 26 September 2020 silam.

Anaknya Nur Alifah yang juga merupakan anggota polisi di Polsek Rembang menjelaskan, gumpalan daging itu lalu dibawa pulang karena menurut kepercayaan orang dulu, akan melancarkan rezeki.

“Dia tidak tahu apakah itu janin bayi atau bangkai janin hewan. Kemudian daging itu dirawat, dimandikan dukun bayi, dikuburkan oleh pemuka agama dan didoakan sesuai syariat Islam. Bahkan sempat diberi nama,” katanya.

Beberapa hari kemudian, tiba-tiba polisi dari Polsek Rembang datang ke rumah Rinah. Lalu mengajaknya ke lokasi penemuan daging yang diduga janin itu.

Janin itu juga diangkat dari makamnya. Rinah dimintai KTP oleh polisi dengan alasan untuk membuat Laporan. Dia juga diminta memberikan baju yang dikenakan saat menemukan daging tersebut. Rinah juga diminta datang ke Polres, katanya untuk BAP (Berita Acara Penyidikan).

“Ternyata bukan ke Polres tapi malah ke RS Ummu Hani (RS bayi dan anak) diminta untuk USG. Hasilnya, ibu saya negatif belum pernah keguguran,” kata dia.

Rinah sempat menolak saat dibujuk anggota Unit PPA untuk operasi pembersihan rahim. Alasannya, di rahimnya ada gumpalan yang membahayakan. Namun akhirnya dia bersedia setelah dibujuk oleh anaknya Alifah.

“Kata Unit PPA, urusan polres sudah selesai. Tapi hasil operasinya tidak diperlihatkan. Kemudian dari Dokkes (Unit Kedokteran dan Kesehatan Polres Purbalingga) ibu saya diambil darahnya tapi tidak diberi tahu untuk apa,” kata Alifah.

Pada 5 Oktober 2020, penyidik melakukan berita acara pemeriksaan (BAP). Namun, Rinah tidak pernah mendapat surat panggilan. Kemudian pada 20 Januari 2021, Rinah mendapat surat panggilan.

Selanjutnya 21 Januari 2021, ditunjukkan hasil DNA tapi dia tidak pernah mendapat pemberitahuan tes DNA.


Cari Informasi Viral Di Kolom Pencarian

Rinah sempat menanyakan ke rumah sakit dan dokter mengatakan, yang dialami adalah penebalan dinding rahim karena faktor usia menopouse. Tidak ada riwayat melahirkan atau keguguran.

Pada 4 Februari 2021 lalu, Rinah dipanggil ke Polres untuk menjadi saksi. Tetapi karena sakit dia bisa datang pada 8 Februari 2021. Ternyata dalam BAP, Rinah ditetapkan sebagai tersangka melanggar UU Perlindungan Anak karena menggugurkan janin. Dia mulai ditahan sejak 22 Maret 2021.

Merasa janggal dengan proses hukum itu, keluarga didampingi kuasa hukum mengajukan upaya gelar perkara ulang ke Mabes Polri. Namun hal itu gugur, karena perkara sudah dilimpahkan ke Kejaksaan.

Mereka lalu melakukan gugatan praperadilan ke PN Purbalingga. Permohonan pada 12 Maret 2021, namun sidang baru dilakukan pada 29 Maret 2021. Padahal menurut KUHAP, praperadilan harus sudah ada putusan maksimal tujuh hari setelah permohonan masuk.

Ternyata di PN, perkara itu sudah dijadwalkan sidang pada 1 April 2021 mendatang. Sebab jika sidang praperadilan terbentur sidang perkara pokoknya, maka prapradilan akan sia-sia.

“Kasus ini banyak kejanggalan, kami meminta keadilan dalam hukum. Ini tidak main-main, klien saya ancamannya 15 tahun. Kalau penetapan tersangkanya cacat hukum karena pengambilan barang bukti yang tidak sah, tentunya penetapan status tersangka akan batal demi hukum,” kata ananto.

Kapolres Purbalingga AKBP Fannky Ani Sugiharto menyatakan, proses hukum terhadap tersangka Rinah Supriyono (49) warga Desa Bodaskarangjati, Kecamatan Rembang, Purbalingga telah sesuai dengan prosedur.

Terkait pihak keluarga tersangka yang mempraperadilankan dirinya, Fannky mempersilakan untuk melakukan upaya hukum.

“Kalau tidak ada kepuasan, ya silakan, tidak apa-apa,” katanya Kapolres.

Proses penyidikan oleh anggotanya dilakukan secara profesional. Bukti-bukti yang menguatkan juga sudah lengkap. Berkas tersebut pun, sudah dinyatakan lengkap oleh Kejaksaan (P21) dan tinggal menunggu sidang.

“Kalau tidak lengkap, ya tidak P21. Kejaksaan juga tidak akan gegabah menentukan P21, perlu pembuktian-pembuktian. Jika dari pihak sana keberatan, tinggal dibuktikan saja di pengadilan,” katanya.

Walaupun tersangka merupakan ibu dari salah satu anggota kepolisian, pihaknya tidak tebang pilih dan melihat masalah hanya dari seragamnya. Namun lebih pada manusianya yang ditindak.

“Walaupun anggota Polri salah, wajib ditindak. Kita tidak pilih-pilih.” pungkasnya. (Gilang)

Pos terkait